SETIDAKNYA ada 10 alasan doa tidak belum terkabul sesuai harapan padahal setiap waktu sudah memanjatkan doa memohon berkali-kali kepada Allah Ta'ala. Nah pernahkah bertanya kenapa doa tidak atau belum terkabulkan?
“Pertanyaan ini mungkin mewakili hampir sebagain besar kita. Ada baiknya kita lihat sejenak sebab-sebab tidak dikabulkannya doa,” sebut dosen IAIN Syekh Nurjati Cirebon yang juga penulis buku-buku motivasi Islam, Dr Didi Junaedi.
Baca Juga: Begini Akibat Jika Bersandar Harapan dan Mencari Ridha kepada Manusia
Didi Junaedi menjelaskan dalam artikelnya dengan mengutip Ibrahim Ibn Adham yang menyebutkan ada sepuluh hal yang membuat doa tidak terkabul:
1. Kita mengenal Allah tetapi tidak memenuhi hak-hak-Nya.
2. Kita sering membaca Al-Quran tetapi belum mau mengamalkannya.
3. Kita mengaku mencintai Rasulullah tetapi meninggalkan sunnahnya.
4. Kita mengklaim menjadi musuh setan tetapi justru menaatinya.
5. Kita memohon keselamatan dari siksa neraka, namun malah menjerumuskan diri ke dalamnya.
6. Kita memohon agar dimasukkan ke surga tetapi kita justru menjauh darinya.
7. Kita tahu bahwa kematian itu benar adanya, namun kita tidak mempersiapkan diri untuk bertemu dengannya.
Baca Juga: 5 Poin Penting Dua Kalimat Syahadat Bagi Muslim
8. Kita sibuk dengan aib orang lain, sedangkan aib sendiri tidak kita perhatikan.
9. Kita sudah banyak merasakan nikmat Tuhan, tetapi kita tidak mensyukurinya.
10. Kita sering mengantar jenazah, tetapi tidak pernah mengambil pelajaran darinya.
Menyimak uraian Ibrahim Ibn Adham di atas, sepatutnya kita melihat ke dalam diri kita sendiri, mengapa doa-doa kita yang selama ini kita panjatkan seolah tidak pernah dikabulkan Allah? Apakah kita sudah benar-benar menjadi seorang muslim dan mukmin yang taat, sehingga Allah—disebut dalam suatu hadis— ‘malu’ untuk tidak memberi apa yang kita minta. Ataukah kita masih sering terjebak ke dalam sepuluh hal di atas yang disebut Ibrahim Ibn Adham sebagai penghalang terkabulnya doa.
Jawaban dari pertanyaan di atas kembali kepada diri kita masing-masing. “Istafti qalbak”, tanyakan pada hatimu, demikian kata Rasulullah.