Kalah telak karena banyaknya serdadu mereka yang telah dilumpuhkan, Inggris memutuskan balik ke arah Jakarta. Namun, baru saja sampai di Pertigaan Pondok Ungu (kini Jalan Sultan Agung), mereka kembali disergap dengan penyerangan dari para pendekar Bekasi.
Tidak disangka, skalanya lebih besar hingga sekutu pun kewalahan melawan serangan yang dipimpin oleh Kiai Noer Ali dan TKR Laut di bawah komando Kapten Madmuin Hasibuan. Sergapan besar dari arah Kampung Sasak Kapuk itu membuat sekutu mati kutu dan harus mengatur ulang pertahanan mereka.
Baca juga: Jadwal Sholat Hari Ini, Selasa 14 Desember 2021M/9 Jumadil Awal 1443H
Setelah mampu bangkit menyusun strategi pertahanannya, barulah Inggris melakukan serangan balik dengan membanjiri pasukan Kiai Noer Ali dengan peluru-peluru mortar dan meriam. Di sinilah banyak rakyat dan murid-murid dari Kiai Noer Ali berguguran.
Keberhasilan akan serangan balik dari Inggris ini yang akhirnya membuat mereka mampu bergerak mundur kembali ke Jakarta. Sejak tragedi itu, Kiai Noer Ali tak pernah lagi melibatkan pasukannya dalam pertempuran frontal dan memilih mengandalkan perang gerilya.
Baca juga: Bacaan Zikir Pagi Hari Ini, Selasa 14 Desember 2021M/9 Jumadil Awal 1443H
"Iya, sejak pertempuran Sasak Kapuk atau Pertempuran Pondok Ungu ini, Kiai Noer Ali belajar dari pengalaman. Enggak mau lagi bertempur secara frontal dan pilih metode perang gerilya," ungkap sejarawan Bekasi Beny Rusmawan kepada Okezone beberapa waktu lalu.
Peristiwa berdarah yang tidak kalah sengit ialah pembantaian Rawagede yang memakan korban lebih dari 40 orang. Tragedi ini berawal dari perang urat saraf antara KH Noer Ali yang memerintahkan pasukannya bersama masyarakat di Tanjung Karekok, Rawagede, untuk membuat bendera merah putih ukuran kecil terbuat dari kertas.