Share

Biografi Imam Abu Hanifah: Ulama Fikih Asal Irak Pendiri Mazhab Hanafi

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 18 Januari 2022 09:08 WIB
https: img.okezone.com content 2022 01 18 614 2533761 biografi-imam-abu-hanifah-ulama-fikih-asal-irak-pendiri-mazhab-hanafi-LCljKluypw.jpg Ilustrasi biografi Imam Abu Hanifah. (Foto: Istimewa)

BIOGRAFI Imam Abu Hanifah hendaknya diketahui setiap Muslim. Beliau merupakan satu dari empat imam mazhab di dalam Islam. Pertama ada Imam Abu Hanifah Nu’man bin Tsabit rahimahullah dari Kufah, Irak (hidup tahun 80–150H). Kedua adalah Imam Malik bin Anas rahimahullah dari Madinah (hidup tahun 93–179H).

Ketiga yakni Imam Syafii Muhammad bin Idris rahimahullah yang lahir di Ghazza, ‘Asqalan, kemudian pindah ke Makkah. Beliau bersafar ke Madinah, Yaman, dan Irak lalu menetap dan wafat di Mesir (hidup tahun 150–204H). Keempat yaitu Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah dari Baghdad, Irak (hidup tahun 164–241H).

Baca juga: Mengenal Imam Mazhab: Abu Hanifah sang Ulama Besar yang Berasal dari Pasar 

Empat ulama tersebut sangat masyhur di kalangan umat Islam. Kepada empat imam inilah, empat mazhab fikih dinisbatkan. Nah, kali ini akan dibahas biografi singkat Imam Abu Hanifah, sebagaimana dikutip dari nu.or.id, Selasa (18/1/2022).

Ustadz Ahmad Dirgahayu Hidayat, alumnus Ma’had Aly Situbondo, dan pendiri Komunitas Lingkar Ngaji Lesehan di Lombok, menjelaskan Imam Abu Hanifah yang bernama asli Nu’man bin Tsabit bin Zutha adalah seorang ulama besar pendiri mazhab Hanafi. Ia termasuk imam mazhab pendahulu di antara tiga mazhab muktabar lainnya (mazhab Maliki, mazhab Syafi’i, dan Hanbali).

Beliau lahir di Kota Kufah, Irak, pada tahun 80 Hijriah, bertepatan dengan tahun 699 Masehi, dan wafat di Baghdad pada 150H atau tahun 767M.

Mengutip Muhammad Ali As-Sayyis dalam 'Tarikh al-Fiqih al-Islami (halaman 104)', nama Imam Abu Hanifah masuk daftar atba’ at-tabi’in (pengikut para tabiin), generasi ketiga setelah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. Sebab, kabarnya ia hanya sempat semasa —walaupun tak lama— dengan empat orang sahabat: Anas bin Malik yang tinggal di Bashrah, Abdullah bin Abi Aufa di Kufah, Sahl bin Sa’ad as-Sa’idi di Madinah, dan sahabat Abu Thufail Amir bin Watsilah di Makkah. Tapi sayang, tak satu pun pernah ditemuinya.

Sedangkan dalam riwayat lain –kendati tergolong lemah– Imam Abu Hanifah masuk daftar tabiin, santrinya para sahabat Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. Sebab menurut riwayat ini, ia pernah bertemu dengan sahabat Anas bin Malik, dan meriwayatkan satu hadis tentang kewajiban menuntut ilmu darinya.

Ditambah lagi pada tahun 96H, Nu’man remaja pernah dibawa ayahnya menunaikan ibadah haji. Saat di Masjidil Haram, ia sempat bertemu dengan seorang sahabat bernama Abdullah bin al-Harst bin Juzu’ az-Zabidi, dan berhasil meriwayatkan satu hadis lagi.

Baca juga: Abu Nawas Ungkap Jumlah Ikan di Laut dan Bintang di Langit, Gimana Cara Hitungnya? 

Tanah Kufah menjadi tempat tinggal terlama bagi Imam Abu Hanifah. Ia menghabiskan sebagian besar hidupnya di sana. Sebelum masuk ke dunia santri, putra Nu’man ini adalah seorang wiraswasta. Hari-harinya selalu di pasar, membantu sang ayah berjualan sutra. Ketika di rumah, ia sibuk memikirkan bagaimana memproduksi kain-kain sutra pilihan. Karena itu, wajar dirinya dikenal sebagai ulama sekaligus pengusaha.

Setelah sekian lama menjadi wiraswasta, bahkan sampai menghabiskan separuh masa mudanya, Imam Abu Hanifah pun akhirnya bertolak dari dunia pasar menuju dunia intelektual atas saran seorang ulama bernama As-Sya’bi. Wajar saja bila dia termasuk satu dari sekian ulama yang telat belajar. Namun, hal itu bukan persoalan besar di mata Abu Hanifah. Berkat ketekunan dan kecerdasan yang dimiliki, Beliau mampu mengalahkan orang-orang yang belajar jauh sebelum dirinya.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Guru-Guru Imam Abu Hanifah

Setelah memutuskan untuk mengikuti saran As-Sya’bi, meninggalkan hiruk-pikuk dunia perdagangan dan mencurahkan lebih banyak simpati kepada para ulama, ‘santri baru’ itu sudah mulai jarang tampak di pasar. Ia mulai menjauh dari kebisingan di tempat itu. Walaupun, sesekali juga menyempatkan diri menyambangi para pelanggan setia dan teman-temannya di sana. Tapi itu bisa dihitung jari. Dalam sepekan, mungkin sekali atau bahkan tidak sama sekali. Kesehariannya sibuk dengan mengaji, menghadiri halakah demi halakah para ulama di Kufah.

Baca juga: Tren Boneka Arwah, Ustadz Adi Hidayat Ungkap Hisab Berat untuk Pembuatnya 

Baca juga: Hukum Transplantasi Organ Babi pada Manusia, Ini Menurut Pandangan Islam 

Di antara para ulama, tempat simpuh Abu Hanifah mengambil hadis adalah imam ‘Atha’ bin Abi Rabah, imam Nafi’ (mantan budaknya Ibnu Umar), Imam Qatadah, dan Syekh Hammad bin Abi Sulaiman (tempat mulazamah terlama, selama 18 tahun).

Dari syekh Hammad ini pula, ia belajar fikih secara mendalam dengan transmisi keilmuan yang sampai kepada Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam. Sebab, gurunya itu merupakan murid dari Ibrahim al-Nakha’i dan al-Sya’bi. Keduanya adalah santri tiga ulama besar: Imam Al-Qhadli, Alqamah bin Qais, dan Masruq bin Ajda’. Mereka semua belajar fikih kepada Abdullah bin Mas’ud dan Imam Ali bin Abi Thalib, gerbang keilmuan baginda Nabi. Keterangan ini ditulis oleh Muhammad Ali as-Sayyis dalam Tarikh al-Fiqih al-Islami (halaman 104).

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini