Share

Kisah Sayyida Al Hurra, Muslimah Ratu Bajak Laut Paling Ditakuti di Eropa

Intan Afika Nuur Aziizah, Jurnalis · Kamis 10 Maret 2022 10:04 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 10 614 2559274 kisah-sayyida-al-hurra-muslimah-ratu-bajak-laut-paling-ditakuti-di-eropa-mRhBqQFJ9X.jpg Ilustrasi Sayyida Al Hurra muslimah ratu bajak laut paling ditakuti di Eropa. (Foto: YouTube Safina)

KISAH Sayyida Al Hurra, ratu bajak laut Muslimah pertama di dunia yang sangat pemberani dapat menjadi inspirasi. Dengan keberaniannya itu, Sayyida Al Hurra bahkan dibenci dan ditakuti oleh musuh-musuh Islam di Eropa.

Nama Sayyida Al Hurra sendiri terkenal di wilayah barat Mediterania karena sering menargetkan kapal-kapal para pedagang Portugis dan Spanyol. Dia juga menjadi aliansi Barbarossa, bajak laut ternama di Eropa yang juga seorang Muslim. Lantas, siapakah sosok Sayyida Al Hurra?

Baca juga: Perkasa! Istri Abu Nawas Pukuli Maling Sampai Bonyok, Ini Penyebabnya 

Dikutip dari kanal YouTube Safina, Sayyida Al Hurra adalah seorang wanita bajak laut terkenal yang hidup antara abad ke-15 dan 16. Selain menjadi ratu bajak laut, ia juga menjabat sebagai Gubernur Tetouan, dan akhirnya menikah dengan Sultan Maroko.

Kekuasaannya hancur bukan karena serangan dari luar, melainkan karena kerusuhan di wilayah kekuasaanya yang digulingkan oleh menantunya sendiri.

Nama besar ratu bajak laut ini tidak begitu dikenal sebagian besar kaum Muslimin, tetapi justru namanya tertulis dalam catatan agama lain di Portugis dan Spanyol. Sumber tersebut menyebut Sayyida Al Hurra diterjemahkan sebagai wanita berdaulat atau Sovereign Lady. Sehingga, nama aslinya pun menghilang dari sejarah dan diasumsikan sosok itu adalah Aisha.

Nama sebenarnya adalah Lalla Aicha binti Ali ibn Rashid al Alami. Sayyida Al Hurra lahir sekira tahun 1485 di Granada, negara Muslim terakhir di Semenanjung Iberia. Ayahnya adalah Abu al Asan Ali ibn Moussa ibn Rashid Al Alami yang mendirikan Kota Chefchaouen, Maroko. Ibunya adalah Zohra Fernandez, seorang NAsrani yang masuk Islam.

Baca juga: 4 Ulama Rusia yang Gigih Syiarkan Islam, Ada Penghafal Ratusan Hadis 

Keluarganya merupakan bangsawan yang dikenal sebagai Rashid, keturunan Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dari Ali dan Fatimah. Mereka mendirikan Dinasti Idrisid di Maroko selama akhir abad ke-8.

Ketika Granada jatuh ke pasukan Reconquista tahun 1492, banyak Muslim melarikan diri ke Afrika Utara, termasuk keluarga Sayyida Al Hurra. Kemudian Granada ditaklukan oleh Raja Katolik, Isabel I Saka Kastilia dan Ferdinand II dari Aragon.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Isabella dan Ferdinand memang dikenal karena mampu menyelesaikan Reconquista. Mereka memerintahkan umat Muslim untuk mendukung dan membiayai perjalanan Christopher Columbus pada 1492.

Semuanya mengarah pada pembukaan Dunia Baru. Mereka membentuk Spanyol sebagai kekuatan global pertama yang mendominasi Eropa dan sebagian besar dunia selama lebih dari satu abad.

Baca juga: Bacaan Zikir Pagi Hari Ini, Kamis 10 Maret 2022M/7 Syaban 1443H 

Kemudian di usia 16 hingga 25 tahun, Sayyida Al Hurra menikah dengan Abu Hassan Al Mandari yang 30 tahun lebih tua. Al Mandari adalah pengungsi yang melarikan diri ke Spanyol, menetap di Tetouan dan menjadi gubernur di sana sekira tahun 1515 hingga 1519. Setelah suaminya wafat, Sayyida Al Hurra menggantikan posisi menjadi gubernur di Tetouan.

Pada 1515, Sayyida merupakan orang terakhir dalam sejarah Islam yang secara sah memegang gelar Al Hurra atau Ratu. Lalu, bagaimana awal kisah Sayyida Al Hurra menjadi bajak laut?

Sejarah menceritakan Sayyida Al Hurra tidak pernah melupakan jatuhnya Granada. Dia bersumpah membalas kekalahan dan melawan Eropa. Sayyida berencana merebut kembali Andalusia dari orang-orang agama lain. Meskipun saat itu tidak bisa menghadapi Spanyol dan Portugis secara langsung, Sayyida berhasil membuat kekacauan perdagangan laut dengan cara pembajakan.

Tidak lama setelah kejadian itu, Sayyida membentuk aliansi dengan bajak laut terkenal bernama Oruc Reis atau bajak laut Barbarossa yang ternama di Eropa. Sosok ini juga dikenal sebagai Red Beard yang meneror bagian timur Mediterania. Dia dikenal sebagai saudara laki-laki dari Hayreddin Barbarossa, laksamana Utsmaniyah dari armada yang lahir di pulau Lesbos.

Baca juga: Suami Sudah Kebelet, Mana Lebih Didahulukan Sholat atau Berjimak? 

Sayyida Al Hurra membajak di wilayah barat yang menargetkan kapal dagang Portugis dan Spanyol. Kru kapal dagang berhasil diserbu dan ditawan olehnya. Alhasil, Portugis dan Spanyol pun dipaksa bernegosiasi dengan Sayyida Al Hurra, mereka terpaksa membayar tebusan dengan jumlah yang besar kepada Sayyida.

Kekayaan dan kekuatannya membuat Sayyida diperhitungkan di Afrika Utara. Sultan Maroko, Ahmed Al Wattasi, menyadari situasi tersebut dan mengusulkan untuk menikahi janda ini. Tidak lama kemudian, mereka berencana membentuk aliansi. Sayyida pun setuju dengan syarat, sang sultan berangkat ke Tetouan untuk menikahinya.

Syarat ini belum pernah terjadi sebelumnya, karena di zaman itu wanita yang harus pergi ke kota calon suaminya untuk menikah. Setelah menikah, keduanya tinggal di kotanya masing-masing. Tentu saja, pernikahan ini jelas murni untuk tujuan politik.

Pada 1542, Maroko berperang dengan Portugal. Situasi negara pun mulai kacau. Ahmed Al Hassan Al Mandari, menantu Sayyida Al Hurra sekaligus kerabat suami pertamanya, tiba-tiba membentuk aliansi dengan musuh-musuh Ahmed Al Wattasi. Mereka kemudian berhasil menggulingkan pasukannya.

Sejak saat itulah Sayyida Al Hurra menghilang dari sejarah. Namun menurut cerita yang beredar, dia kembali ke Chefchaouen dan meninggal di sana 20 tahun kemudian.

Wallahu a'lam bishawab.

Baca juga: Suami Ngajak Hubungan Intim saat Azan Berkumandang, Bolehkah Menolak? 

Baca juga: Jadwal Sholat Hari Ini, Kamis 10 Maret 2022M/7 Syaban 1443H 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini