Share

7 Hal yang Membatalkan Itikaf, Salah Satunya Keluar Masjid Tanpa Udzur

Tim Okezone, Jurnalis · Selasa 12 April 2022 12:59 WIB
https: img.okezone.com content 2022 04 12 330 2577605 7-hal-yang-membatalkan-itikaf-salah-satunya-keluar-masjid-tanpa-udzur-Uw4pMy5Kab.jpg Ilustrasi hal yang membatalkan itikaf Ramadan di masjid. (Foto: Shutterstock)

HAL yang membatalkan itikaf di masjid pada 10 hari terakhir bulan Ramadan wajib diketahui kaum Muslimin yang hendak menunaikannya. Jangan sampai hal-hal itu terjadi karena bisa membuat ibadah itikaf di masjid menjadi sia-sia dan gagal meraih lailatul qadar.

Setidaknya ada tujuh hal yang dapat membatalkan itikaf. Apa saja? Berikut ini penjelasan Ustadz Muhammad Mubasysyarum Bih, dewan pembina Pondok Pesantren Raudlatul Quran Geyongan, Arjawinangun, Cirebon, Jawa Barat; seperti dikutip dari nu.or.id:

Baca juga: Masuk Islam, Fitria Yusuf Putri Konglomerat Jusuf Hamka Bangun 1.000 Masjidย 

1. Gangguan jiwa

Gangguan jiwa parah yang dialami orang gila menjadikannya tidak dapat mengendalikan diri, sehingga dalam kondisi tersebut ia tidak memenuhi kualifikasi orang yang dinyatakan sah itikafnya.

Namun kondisi gila yang dapat membatalkan itikaf adalah ketika disebabkan keteledoran pelakunya, misalnya sengaja mengonsumsi obat yang menjadikannya gila. Bila tidak ada unsur keteledoran, maka tidak membatalkan itikaf yang telah dilakukan asalkan ia tidak dikeluarkan dari masjid, sehingga ketika dalam waktu dekat, ia sembuh kembali, tidak perlu mengulangi niat itikaf, cukup melanjutkan niat itikaf sebelumnya.

2. Ighma atau pingsan

Al-ighmaโ€™ didefinisikan dengan:

ุขููŽุฉูŒ ูููŠ ุงู„ู’ู‚ูŽู„ู’ุจู ุฃูŽูˆู ุงู„ุฏู‘ูู…ูŽุงุบู ุชูุนูŽุทู‘ูู„ ุงู„ู’ู‚ููˆูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุฏู’ุฑููƒูŽุฉูŽ ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฑูŽูƒูŽุฉูŽ ุนูŽู†ู’ ุฃูŽูู’ุนูŽุงู„ูู‡ูŽุง ู…ูŽุนูŽ ุจูŽู‚ูŽุงุกู ุงู„ู’ุนูŽู‚ู’ู„ ู…ูŽุบู’ู„ููˆุจู‹ุง

"Penyakit di hati atau otak yang dapat menghilangkan kesadaran dan membuat tidak dapat bergerak (tidak berdaya) serta masih tersisanya akal secara minim." (Jamaah Ulama Kuwait, al-Masuโ€™ah al-Fiqhiyyah, juz 7, halaman 163)

Melihat definisi ini, kata ighma lebih tepat diterjemahkan dengan pingsan (Jawa: semaput), daripada diartikan epilepsi, sebab ighma tidak ada hubungannya sama sekali dengan gangguan saraf, sementara epilepsi berkaitan erat dengan penyakit saraf. Tarafnya ighma masih di bawah gila, sebab gila dapat menghilangkan akal secara total, sedangkan ighma masih menyisakan kesadaran akal meski dalam taraf yang minim.

Sebagaimana gila, pingsan dapat membatalkan iโ€™tikaf bila disebabkan oleh keteloderan, semisal akibat secara sengaja meminum obat yang menyebabkan pingsan. Jika tidak demikian, iโ€™tikafnya yang sudah dijalani tetap sah dengan catatan ia tetap berada di masjid. Ketika ia kembali siuman saat masih berada di masjid, tidak perlu mengulangi niat iโ€™tikaf. Perbedaannya dengan persoalan gila adalah saat kondisi gila, tidak terhitung pahala iโ€™tikafnya, sebab pelakunya tidak sah menjalani iโ€™tikaf, berbeda dalam kondisi pingsan, tetap dihitung pahala iโ€™tikafnya, sebab iโ€™tikaf tetap sah dilakukan dalam kondisi pingsan.

Syekh Khathib al-Syarbini menjelaskan:

(ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุทูŽุฑูŽุฃูŽ ุฌูู†ููˆู†ูŒ ุฃูŽูˆู’ ุฅุบู’ู…ูŽุงุกูŒ) ุนูŽู„ูŽู‰ ุงู„ู’ู…ูุนู’ุชูŽูƒููู (ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุจู’ุทูู„ู’ ู…ูŽุง ู…ูŽุถูŽู‰) ู…ูู†ู’ ุงุนู’ุชููƒูŽุงููู‡ู ุงู„ู’ู…ูุชูŽุชูŽุงุจูุนู (ุฅู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูุฎู’ุฑูŽุฌู’) ุจูุงู„ู’ุจูู†ูŽุงุกู ู„ูู„ู’ู…ูŽูู’ุนููˆู„ู ู…ูู†ู’ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏูุ› ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ู…ูŽุนู’ุฐููˆุฑูŒ ุจูู…ูŽุง ุนูŽุฑูŽุถูŽ ู„ูŽู‡ู ...ุฅู„ู‰ ุฃู† ู‚ุงู„.....ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ู„ูŽูˆู’ ุทูŽุฑูŽุฃูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุจูุณูŽุจูŽุจู ู„ูŽุง ูŠูุนู’ุฐูŽุฑู ูููŠู‡ู ูƒูŽุงู„ุณู‘ููƒู’ุฑู ููŽุฅูู†ู‘ูŽู‡ู ูŠูŽู†ู’ู‚ูŽุทูุนู ุงุนู’ุชููƒูŽุงููู‡ู ูƒูŽู…ูŽุง ู†ูŽู‚ูŽู„ูŽู‡ู ูููŠ ุงู„ู’ูƒูููŽุงูŠูŽุฉู ุนูŽู†ู’ ุงู„ู’ุจูŽู†ู’ุฏูŽู†ููŠุฌููŠู‘ู ูููŠ ุงู„ู’ุฌูู†ููˆู†ูุŒ ูˆูŽุจูŽุญูŽุซูŽู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุฐู’ุฑูŽุนููŠู‘ู ูููŠ ุงู„ู’ุฅูุบู’ู…ูŽุงุกู

"Bila baru datang gila atau pingsan atas orang yang beriโ€™tikaf, maka tidak batal iโ€™tikaf yang telah lewat yang dilakukan secara berkelanjutan, bila ia tidak dikeluarkan dari masjid, karena dimaklumi atas kondisi baru datang yang dialami. Adapun jika hal tersebut terjadi dengan sebab yang tidak dimaklumi, seperti mabuk, maka terputus iโ€™tikafnya seperti yang dikutip Imam Ibnu Rifโ€™ah dalam kitab al-Kifayah dari al-Bandaniji dalam persoalan gila, dan dibahas oleh Imam al-Adzraโ€™i dalam kasus pingsan.โ€ (Syekh Khathib al-Syarbini, Mughni al-Muhtaj, juz 2, halaman 196)

Syekh Muhammad al-Ramli menjelaskan:

ู€ (ูˆูŽูŠูุญู’ุณูŽุจู ุฒูŽู…ูŽู†ู ุงู„ู’ุฅูุบู’ู…ูŽุงุกู ู…ูู†ู’ ุงู„ูุงุนู’ุชููƒูŽุงูู) ุงู„ู’ู…ูุชูŽุชูŽุงุจูุนู ูƒูŽู…ูŽุง ูููŠ ุงู„ุตู‘ูŽุงุฆูู…ู ุฅุฐูŽุง ุฃูุบู’ู…ููŠูŽ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุจูŽุนู’ุถูŽ ุงู„ู†ู‘ูŽู‡ูŽุงุฑู (ุฏููˆู†ูŽ) ุฒูŽู…ูŽู†ู (ุงู„ู’ุฌูู†ููˆู†ู) ููŽู„ูŽุง ูŠูุญู’ุณูŽุจู ู…ูู†ู’ู‡ู ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ุนูุจูŽุงุฏูŽุฉูŽ ุงู„ู’ุจูŽุฏูŽู†ููŠู‘ูŽุฉูŽ ู„ูŽุง ุชูŽุตูุญู‘ู ู…ูู†ู’ู‡ู

"Dan dihitung masa pingsan dari iโ€™tikaf yang berkelanjutan seperti orang puasa yang pingsan di sebagian siang, bukan masa gila, maka tidak terhitung darinya, sebab ibadah badan tidak sah dilakukan darinya." (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 3, halaman 225)

Baca juga: 7 Hal yang Meruntuhkan Pahala Puasa, Nomor 1 Tidak Sadar Sering Dilakukanย 

3. Mabuk

Orang mabuk bukan tergolong orang yang sah menjalani ibadah iโ€™tikaf, sebagaimana ibadah-ibadah lain yang membutuhkan niat. Ketika di pertengahan iโ€™tikaf kondisi mabuk melanda, iโ€™tikafnya batal, sehingga bila pelakunya kembali sadar, wajib memulai niat iโ€™tikaf kembali, meski ia masih berada di dalam masjid.

Seperti gila dan pingsan, ketentuan ini berlaku dalam konteks mabuk yang disengaja (teledor). Bila tidak disengaja, semisal tanpa sadar mengonsumsi makanan atau minuman yang memabukan, maka tidak membatalkan iโ€™tikaf yang telah dilakukan.

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

4. Keluar dari Islam (riddah)

Keluar dari agama Islam dalam istilah fiqh disebut dengan riddah, pelakunya dinamakan dengan murtad. Orang bisa keluar dari Islam bila ia melakukan hal-hal yang dapat melecehkan, menentang dan mengingkari hal-hal yang menjadi pokok ajaran Islam, seperti meyakini Nabi setelah Rasulullah Muhammad, meyakini Tuhan berwujud tiga (trinitas) dan lain sebagainya.

Itikaf adalah ibadah yang membutuhkan niat, maka tidak sah dilakukan oleh orang murtad, sebab di antara syarat sah ibadah adalah Islam. Itikaf yang telah dilakukan juga menjadi batal bila di tengah-tengah itikaf, seseorang tiba-tiba murtad.

Ketentuan hukum bagi orang mabuk dan murtad berdasarkan referensi berikut ini:

ู€ (ูˆูŽู„ูŽูˆู’ ุงุฑู’ุชูŽุฏู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุนู’ุชูŽูƒููู ุฃูŽูˆู’ ุณูŽูƒูุฑูŽ) ู…ูุนู’ุชูŽุฏููŠู‹ุง (ุจูŽุทูŽู„ูŽ) ุงุนู’ุชููƒูŽุงููู‡ู ุฒูŽู…ูŽู†ูŽ ุฑูุฏู‘ูŽุชูู‡ู ูˆูŽุณููƒู’ุฑูู‡ู ู„ูุนูŽุฏูŽู…ู ุฃูŽู‡ู’ู„ููŠู‘ูŽุชูู‡ูุŒ ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุบูŽูŠู’ุฑู ุงู„ู’ู…ูุชูŽุนูŽุฏู‘ููŠ ููŽูŠูุดู’ุจูู‡ู ูƒูŽู…ูŽุง ู‚ูŽุงู„ูŽู‡ู ุงู„ู’ุฃูŽุฐู’ุฑูŽุนููŠู‘ู ุฃูŽู†ู‘ูŽู‡ู ูƒูŽุงู„ู’ู…ูุบู’ู…ูŽู‰ ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู

"Bila ia murtad atau mabuk secara teledor, maka batal itikafnya saat murtad dan mabuknya, sebab ia tidak ahli (ibadah). Adapun mabuk yang tidak teledor, maka cenderung sama seperti orang pingsan seperti dikatakan Imam al-Adzraโ€™i."

ู€ (ูˆูŽุงู„ู’ู…ูŽุฐู’ู‡ูŽุจู ุจูุทู’ู„ูŽุงู†ู ู…ูŽุง ู…ูŽุถูŽู‰ ู…ูู†ู’ ุงุนู’ุชููƒูŽุงููู‡ูู…ูŽุง ุงู„ู’ู…ูุชูŽุชูŽุงุจูุนู) ูˆูŽุฅูู†ู’ ู„ูŽู…ู’ ูŠูŽุฎู’ุฑูุฌู’ ู„ูุฃูŽู†ู‘ูŽ ุฐูŽู„ููƒูŽ ุฃูŽุดูŽุฏู‘ู ู…ูู†ู’ ุฎูุฑููˆุฌูู‡ู ุจูู„ูŽุง ุนูุฐู’ุฑู ูˆูŽู‡ููˆูŽ ูŠูŽู‚ู’ุทูŽุนู ุงู„ุชู‘ูŽุชูŽุงุจูุนูŽ ููŽู„ูŽุง ุจูุฏู‘ูŽ ู…ูู†ู’ ุงุณู’ุชูุฆู’ู†ูŽุงููู‡ู

"Menurut pendapat al-Madzhab, iโ€™tikaf yang telah dilakukan keduanya yang berkelanjutan, dinyatakan batal, meski ia tidak keluar (dari masjid), sebab kondisi demikian lebih parah dibandingkan keluar (dari masjid), padahal dapat memutus kelanjutan iโ€™tikaf, maka harus memulai dari awal.โ€ (Syekh Muhammad bin Ahmad al-Ramli, Nihayah al-Muhtaj, juz 3, halaman 224)

5. Bersetubuh

Ulama sepakat bahwa bersetubuh di dalam masjid adalah hal yang diharamkan, berdasarkan firman Allah Subhanahu wa ta'ala:

ูˆูŽู„ุง ุชูุจูŽุงุดูุฑููˆู‡ูู†ู‘ูŽ ูˆูŽุฃูŽู†ู’ุชูู…ู’ ุนุงูƒููููˆู†ูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณุงุฌูุฏู

"Janganlah menyetubuhi para wanita sementara kalian sedang menetap di masjid." (QS Al-Baqarah, 187)

Itikaf yang memiliki keterkaitan erat dengan masjid juga menjadi batal disebabkan persetubuhan yang dilakukan di dalam masjid. Meskipun, tentu peristiwa semacam ini sangat sukar dijumpai di sekitar kita.

Syekh Jalaluddin al-Mahalli mengatakan:

ู€ (ูˆูŽูŠูŽุจู’ุทูู„ู ุจูุงู„ู’ุฌูู…ูŽุงุนู) ุฅุฐูŽุง ูƒูŽุงู†ูŽ ุฐูŽุงูƒูุฑู‹ุง ู„ูŽู‡ู ุนูŽุงู„ูู…ู‹ุง ุจูุชูŽุญู’ุฑููŠู…ู ุงู„ู’ุฌูู…ูŽุงุนู ูููŠู‡ู ุณูŽูˆูŽุงุกูŒ ุฌูŽุงู…ูŽุนูŽ ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุฃูŽู…ู’ ุนูู†ู’ุฏูŽ ุงู„ู’ุฎูุฑููˆุฌู ู…ูู†ู’ู‡ู ู„ูู‚ูŽุถูŽุงุกู ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุฉู ู„ูุงู†ู’ุณูุญูŽุงุจู ุญููƒู’ู…ู ุงู„ูุงุนู’ุชููƒูŽุงูู ุนูŽู„ูŽูŠู’ู‡ู ุญููŠู†ูŽุฆูุฐู.

"Iโ€™tikaf batal dengan bersetubuh bila pelakunya ingat dan mengetahui keharaman bersetubuh di dalam masjid, baik ia bersetubuh di masjid atau saat hendak keluar darinya untuk memenuhi kebutuhan, sebab berlangsungnya hukum iโ€™tikaf dalam kondisi demikian.โ€ (Syekh Jalaluddin al-Mahalli, Kanz al-Raghibin, juz 2, halaman 98)

6. Bersentuhan kulit dengan syahwat

Menurut pendapat yang kuat, bersentuhan kulit dengan syahwat dapat membatalkan itikaf bila disertai dengan keluarnya sperma. Ketentuan hukum ini berdasarkan analogi (qiyas) kepada persoalan puasa.

Syekh Jalaluddin al-Mahalli mengatakan:

ู€ (ูˆูŽุฃูŽุธู’ู‡ูŽุฑู ุงู„ู’ุฃูŽู‚ู’ูˆูŽุงู„ู ุฃูŽู†ู‘ูŽ ุงู„ู’ู…ูุจูŽุงุดูŽุฑูŽุฉูŽ ุจูุดูŽู‡ู’ูˆูŽุฉู) ูููŠู…ูŽุง ุฏููˆู†ูŽ ุงู„ู’ููŽุฑู’ุฌู (ูƒูŽู„ูŽู…ู’ุณู ูˆูŽู‚ูุจู’ู„ูŽุฉู ุชูุจู’ุทูู„ูู‡ู ุฅู†ู’ ุฃูŽู†ู’ุฒูŽู„ูŽ ูˆูŽุฅูู„ู‘ูŽุง ููŽู„ูŽุง) ูƒูŽุงู„ุตู‘ูŽูˆู’ู…ู ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽุงู†ููŠ ุชูุจู’ุทูู„ูู‡ู ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู‹ุง ู„ูุญูุฑู’ู…ูŽุชูู‡ูŽุง ูˆูŽุงู„ุซู‘ูŽุงู„ูุซู ู„ูŽุง ุชูุจู’ุทูู„ูู‡ู ู…ูุทู’ู„ูŽู‚ู‹ุง

"Di antara pendapat-pendapat, yang paling jelas (kuat) adalah bahwa bersentuhan kulit dengan syahwat di bagian selain vagina, seperti memegang dan mencium, dapat membatalkan itikaf bila keluar sperma, jika tidak demikian, maka tidak membatalkan, seperti persoalan puasa. Menurut pendapat kedua, tidak membatalkan secara mutlak. Menurut pendapat ketiga, tidak membatalkan secara mutlak." (Syekh Jalaluddin al-Mahalli, Kanz al-Raghibin, juz 2, halaman 98)

7. Keluar dari masjid tanpa udzur

Keluar dari masjid termasuk membatalkan itikaf bila dilakukan tanpa ada udzur yang mendesak. Bila ada kebutuhan, semisal berwudhu, buang hajat, makan atau minum yang tidak mungkin dilakukan di masjid dan lain-lain, maka tidak dapat membatalkan itikaf.

Syekh Muhammad bin Ahmad al-Syathiri menjelaskan:

ูˆูŽุงู„ู’ุฎูุฑููˆู’ุฌู ู…ูู†ูŽ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ุจูู„ูŽุง ุนูุฐู’ุฑู ูˆูŽูƒูŽุฐูŽุง ู„ูุฅูู‚ูŽุงู…ูŽุฉู ุญูŽุฏู‘ู ุซูŽุจูŽุชูŽ ุจูุฅูู‚ู’ุฑูŽุงุฑูู‡ู ุฃูŽู…ู‘ูŽุง ุงู„ู’ุฎูุฑููˆู’ุฌู ู„ูุนูุฐู’ุฑู ูƒูŽุงู„ู’ุฃูŽูƒู’ู„ู ูˆูŽุงู„ุดู‘ูุฑู’ุจู ุงู„ู‘ูŽุฐููŠู’ ู„ูŽุง ูŠูู…ู’ูƒูู†ู ูููŠ ุงู„ู’ู…ูŽุณู’ุฌูุฏู ูˆูŽู‚ูŽุถูŽุงุกู ุงู„ู’ุญูŽุงุฌูŽุฉู ูˆูŽุงู„ู’ุญูŽุฏูŽุซู ุงู„ู’ุฃูŽูƒู’ุจูŽุฑู ููŽู„ูŽุง ูŠูŽุถูุฑู‘ู

"Dan (di antara yang membatalkan iโ€™tikaf) adalah keluar dari masjid tanpa udzur, demikian pula karena menegakan hukuman yang ditetapkan berdasarkan pengakuannya. Adapun keluar karena udzur, seperti makan dan minum yang tidak mungkin dilakukan di masjid, memenuhi hajat dan (menghilangkan) hadats besar, maka tidak bermasalah." (Syekh Muhammad bin Ahmad bin Umar al-Syathiri, Syarh al-Yaqut al-Nafis, halaman 313)

Wallahu a'lam bishawab.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini