"Tinggi dinding kayu cuma setengah tinggi bangunan, kalau hujan jadi tempias. Atap dari seng juga banyak lubang, gampang bocor. Kondisi ini bikin santri enggak nyaman, padahal bangunan masjid sangat penting sebagai pusat aktivitas ibadah dan pendidikan santri," jelas Ade.
Saat ini Pesantren Ar-Rahman menjadi tempat belajar bagi 180 santri. Mereka datang dari latar belakang yang bermacam-macam, khususnya keluarga prasejahtera. Masjid di pesantren tersebut juga tak hanya digunakan santri, tapi juga warga sekitar, akan tetapi ukuran masjid yang tak terlampau besar membuat tak seluruh jemaah tertampung di dalam bangunan.
Baca juga: ACT Terus Tebarkan Kebahagiaan Lewat Berbagai Kolaborasi dan Iftar Bersama
Selain bangunan utama masjid yang kurang memadai, fasilitas toilet juga masih menggunakan bedeng kayu dengan pintu dari kain sarung. "Ini tentunya enggak nyaman bagi santri atau jemaah yang ingin beribadah di sana," tambah Ade.
(Hantoro)