Dari banyaknya keistimewaan ini, ada beberapa ulama menganjurkan agar akad nikah dilakukan hari Jumat. Simak beberapa keterangan mereka berikut ini:
Ibnu Qudamah mengatakan:
ويستحب عقد النكاح يوم الجمعة لأن جماعة من السلف استحبوا ذلك منهم سمرة ابن حبيب وراشد بن سعيد وحبيب بن عتبة ولأنه يوم شريف ويوم عيد فيه خلق الله آدم عليه السلام
"Dianjurkan melakukan akad nikah pada hari Jumat, karena beberapa ulama salaf menganjurkan hal itu, di antaranya, Samurah Ibnu Habib, Rasyid bin Said, dan Habib bin Utbah. Di samping ini merupakan hari yang istimewa dan hari raya Islam. Di hari ini, Adam ‘Alaihis salam diciptakan." (Lihat kitab Al Mughni, 7/428)
Keterangan lain disampaikan An-Nafrawi al-Maliki:
ويستحب كون الخطبة والعقد يوم الجمعة بعد صلاة العصر لقربه من الليل
"Dianjurkan khitbah (lamaran) dan akad nikah dilakukan hari Jumat setelah asar, karena mendekati waktu malam." (Lihat kitab Al Fawakih ad-Dawani, 2/11)
Bisa dipahami latar belakang keterangan An-Nafrawi mengenai anjuran melakukan akad di pengujung hari Jumat. Sebab, waktu mustajab untuk berdoa di hari Jumat terjadi setelah asar sampai maghrib. Sehingga, doa keberkahan yang dipanjatkan di waktu akad akan lebih mustajab.