Mulut yang fasih itu tiba-tiba terkatup. Kata-kata pun terputus. Tak ada lagi suara yang penuh belas kasih. Muhammad Shallallahu alaihi wassallam berteriak-teriak histeris. Betapa tidak kesedihan sesudah berjiarah dan menyaksikan pusara ayahnya, Abdullah ternyata bertambah dengan perpisahan yang harus ia rasakan karena kepergian ibunya tercinta, Aminah, untuk selama-lamanya.
Muhammad Shallallahu alaihi wassallam menangis tegugu-gugu membuat semua orang yang mendengarnya larut dalam duka yang mendalam. Barakah yang berada di sampingya tidak kalah sedih dengan yang dirasakan Muhammad.
Ia menangis tersedu-sedu dan menumpahkan semua air matanya di tengah gurun pasir yang tandus. Seluruh kafilah berkumpul mengitari Aminah, kedukaan merajai suasana dan menggenangkan air mata mereka. Tangisan si kecil Muhammad yang kini yatim piatu, sendiri, tanpa ayah dan ibu menghancurkan hati mereka berkeping-keping.
Sesudah kesedihan yang mereka rasakan sedikit berkurang. Mereka kemudian mengurusi jenazah Aminah. Ketika mata mereka secara seksama menyaksikan wajah Aminah mereka melihat cahaya terang, dan menemukan senyum lebar di bibirnya. Mereka bertanya-tanya tentang keindahan dan keagungan yang belum pernah mereka saksikan ini.
Setelah Barakah menciumi Aminah dengan tangis dan isak, ia membungkus jasadnya dengan kain kafan, lalu menyerahkannya kepada kafilah. Mereka pun membawanya ke liang lahad yang telah mereka persiapkan di tengah padang pasir Abwa’.
Di sana, menaruh jasad suci itu, lalu menuruknya dengan tanah. Sejenak mereka berdiri di sisi depan kuburan, menangis, berdoa, dan memintakan rahmat.
Setelah itu, mereka kembali ke tunggangan masing-masing, berjalan ke Kota Makkah dalam diam. Hati mereka tersayat-sayat oleh tangis si kecil yang merengek-rengek serta meminta agar di kembalikan kepada ibunya dan di tinggalkan sendirian di samping kuburannya.
Barakah pun tidak berhenti meratap. Ia memeluk Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dengan kedua lengannya. Bersama si kecil, dia menaiki unta Aminah dan meninggalkan unta yang lain berjalan di sampingnya.
Setelah meninggalkan Aminah di tengah padang pasir tanpa harapan untuk kembali bertemu, seluruh kafilah berjalan dengan hati teriris-iris. Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dan Barakah tangis mereka pecah di sepanjang jalan menuju Makkah.
Wallahu a'lam bisshawab.
Oleh: Dr Mujahidin Nur Lc MA, anggota Komisi Infokom MUI, penulis novel best seller “Pelukan Terakhir Ibunda Aminah”.
(Hantoro)