INILAH kisah pelukan terakhir Ibunda Aminah untuk putra tercintanya Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. Bermula di suasana panas matahari sedang memuncak. Cuaca seakan sedang mengamuk. Angin mengembuskan hawa panas yang membakar dibarengi sinar matahari yang menjilat-jilat permukaan bumi. Unta-unta pun merendahkan kepala dan lehernya ke tanah, berlindung dari angin yang membakar dan menghamburkan debu-debu.
Di tengah terik yang begitu menyengat, Ibunda Aminah didampingi putranya Muhammad dan pembantunya Barakah siang itu meninggalkan Yatsrib sesudah berjiarah ke makam suaminya Abdullah. Beberapa lama sesudah perjalanan mereka lalui, tiba-tiba Aminah merasakan sakit yang menusuk-nusuk dada. Ia menoleh pelan ke arah pembantunya, Barakah, dan berkata dengan lirih, "Ini adalah perjalanan yang panjang, wahai Barakah."
Pada mulanya Barakah hanya terdiam. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud tuan putrinya. Dengan tersenyum simpul, dia menjawab, "Ini adalah jalan yang telah kita lewati sejak sebulan yang lalu, Tuan Putriku. Aku pikir tidak ada satu pun yang berubah. Kita telah menempuh jarak dua marhalah, masih tersisa delapan marhalah lagi. Dengan kehendak Allah, kita akan melewatinya dan sampai ke Makkah dengan selamat."
Beberapa saat suasana hening. Kafilah kecil ini kembali berjalan menyusuri gurun pasir yang tandus. Tiba-tiba Aminah merasakan sakit di dadanya semakin dahsyat dan menjadi-jadi. Sambil menahan rasa sakit yang makin tak terperi itu ia berkata kepada Barakah dengan suara sedih, "Tidak, wahai Barakah. Perjalanan ini akan menjadi perjalanan panjang yang tiada akhir."
BACA JUGA:Kisah Nabi Muhammad Melihat Wujud Asli Malaikat Jibril
Pandangan matanya mulai lemah. Kepalanya pening. Kemudian pelan-pelan Aminah menoleh memandangi putranya tercinta, Muhammad Shallallahu alaihi wassallam. Ia berkata dengan lembut dan penuh kasih-sayang, "Bagaimana denganmu, wahai Muhammad?" Sesudah mengatakan itu tiba-tiba mata Aminah terpejam pelan.
Muhammad Shallallahu alaihi wassallam menoleh ke arah ibunya. Tatapan mata Muhammad yang tajam bisa menyingkap betapa rasa sakit yang sedang diderita oleh ibunya tercinta.

Tiba-tiba dada Muhammad bergemuruh, hatinya merasakan kepedihan yang tiada tara. Ia mendekap ibunya kuat-kuat sambil berkata, "Ada apa, ibuku? Buka matamu dan lihatlah aku. Bicaralah kepadaku, Ibu!" Namun, perempuan mulia itu tetap diam. Ia terkulai lemas dengan mata terpejam.
Muhammad Shallallahu alaihi wassallam segera mengambil air kemudian mengalirkannya ke kedua telapak tangannya yang mungil, perlahan ia mengusap wajah ibunya, lalu menggapai tangan ibunya sambil mencoba membangkitkannya.
BACA JUGA:Kisah Nabi Ismail Sabar Luar Biasa saat Pisau Kurban Sudah Menempel di Lehernya
Barakah yang berada di sampingnya berusaha membantu Muhammad Shallallahu alaihi wassallam dengan rasa sedih yang menggelora. Namun, Aminah tidak juga bangkit dan tidak pula membuka kedua matanya.
Ia masih terbujur di atas sekedup dengan napas terengah-engah. Muhammad Shallallahu alaihi wassallam berteriak-teriak panik. Sedangkan Barakah menampari kedua pipinya.
Melihat Aminah terbujur dan kepanikan Muhammad Shallallahu alaihi wassallam serta Barakah, kafilah pun berhenti. Para tabib segera bertindak mengobati Aminah. Mereka berusaha menyelamatkan bidadari kafilah dan cahayanya yang terang. Aminah seorang figur agung yang mempunyai hati yang lembut, kecerdasan pikiran, dan keindahan jasmani.
Hati mereka teriris-iris menyaksikan Aminah dan anak kecilnya yang meratap. Sesudah beberapa lama mereka berusaha, tiba-tiba mereka terdiam. Wajah mereka pucat pasi. Dari sudut mata mereka butiran-butiran bening menetes pelan menyusuri pipi.