Share

Menang Sayembara Mengerikan, Abu Nawas Jadi Raja Kaya Raya di Negeri Seberang

Fini Nola Rachmawati, Jurnalis · Kamis 24 November 2022 06:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 23 614 2713366 menang-sayembara-mengerikan-abu-nawas-jadi-raja-kaya-raya-di-negeri-seberang-Gwykxphy43.jpg Ilustrasi kisah Abu Nawas jadi raja kaya raya di negeri seberang. (Foto: Istimewa/Okezone)

INILAH kisah Abu Nawas menjadi raja di negeri seberang. Ceritanya berawal ketika di negeri seberang terdapat sebuah kerajaan yang aman, adil, makmur, dan sentosa karena dipimpin raja bijaksana. Sang raja sudah memimpin sejak usia muda hingga sekarang di masa tua belum pernah digantikan oleh siapa pun, dan rakyatnya tidak pernah keberatan karena raja memerintah dengan adil.

Suatu hari raja merasa jenuh. Ia ingin istirahat menjadi raja selama setahun, namun uniknya tidak menyerahkan posisi raja kepada anak keturunannya, tetapi malah mengadakan sayembara untuk mencari sosok yang pantas menjadi raja. Disebarlah pengumuman ke seluruh negeri.

Siapa pun boleh menjadi raja, mulai rakyat jelata sampai kaum bangsawan. Tetapi ada dua syarat yang harus dijalani. Syarat pertama, dia akan dijadikan raja selama setahun. Syarat kedua, setelah menjadi raja selama setahun, maka harus diasingkan di sebuah hutan belantara yang dihuni ribuan hewan buas.

Syarat pertama tentu saja bukan masalah besar, justru merupakan suatu keberuntungan. Namun syarat kedua membuat orang-orang yang berhasrat menjadi raja akan berpikir dua kali karena semua orang tahu seperti apa hutan belantara yang penuh binatang buas. Karena itulah sayembara tersebut belum ada yang berani mengajukan diri menjadi raja.

BACA JUGA:Geger! Abu Nawas Bangun Istana di Langit, Raja pun Kegirangan 

Akhirnya datang seorang pemuda yang menyatakan kesanggupannya menjadi raja dan menerima dua syarat tersebut. Pemuda ini sebenarnya adalah pemuda biasa yang ingin merasakan bagaimana nikmatnya menjadi raja karena selama ini ia hidup pas-pasan.

Diangkatlah dia menjadi raja dan mulai saat itu mendapat pelayanan layaknya raja, harta berlimpah, wanita cantik, makan dan minuman enak, serta fasilitas istimewa lainnya. Tapi sayang ternyata ketakutannya akan kematian membuatnya tidak bisa menikmati semua itu. 

Info grafis keutamaan membaca Surat Al Kahfi. (Foto: Okezone)

Tiga bulan pertama dia mulai gelisah karena umurnya tinggal 9 bulan lagi. Tiga bulan kedua ia makin tidak tenang makan, tidur tidak nyenyak. Tiga bulan ketiga dia mulai menyesali keputusannya menjadi raja. Tiga bulan terakhir di pemuda makin stres berat karena hidupnya tinggal beberapa bulan dan kesenangan yang dicari selama ini tidak bisa dirasakan.

Ketika masa jabatannya sebagai raja sudah berakhir, lalu dibuanglah dia ke hutan belantara. Tidak Butuh waktu lama terdengar kabar ke seluruh negeri jika pemuda itu tewas dimakan binatang buas.

BACA JUGA:Demi Ambil Lagi Uangnya yang Dicuri, Abu Nawas Pura-Pura Buta, Cerdik Banget! 

Adanya peristiwa tersebut membuat orang-orang kian enggan melamar menjadi raja, tapi ternyata masih saja ada pemuda lain yang ingin melamar menjadi raja. Diangkatlah pemuda kedua ini menjadi raja.

Tiga bulan pertama menjadi raja ia puas-puaskan berpesta karena sadar hidupnya tidak akan lama lagi. Tiga bulan kedua dan berikutnya hari-harinya ia habiskan dengan foya-foya dan pesta pora.

Bulan berganti bulan, pestanya makin gila-gilaan. Ia sudah tidak peduli lagi pada apa pun. Dia hanya ingin bersenang-senang sebelum mati setelah jabatannya sebagai raja berakhir.

Lalu dibuanglah dia ke hutan belantara. Tidak berapa lama terdengar kabar bahwa si pemuda kedua tewas diterkam singa. Tubuhnya dicabik-cabik dan jadi rebutan para singa. 

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

Peristiwa ini membuat banyak orang melupakan mimpi menjadi raja. Mereka masih penasaran apakah masih ada orang yang cukup bodoh untuk melamar menjadi raja.

Suatu hari Abu Nawas mampir ke negeri tersebut dengan tujuan menemui sahabat lamanya yang kebetulan merupakan penduduk di sana. Sesampainya di negeri itu dengan penuh kehangatan Abu Nawas disambut temannya. Mereka berdua saling melepas kangen satu sama lain.

Di sela-sela obrolannya, Abu Nawas merasa iba dengan kondisi sahabatnya itu. Ia kini hidup miskin, tinggal di gubuk kecil reot, hanya seorang diri.

"Mana istrimu?" tanya Abu Nawas, dikutip dari tayangan di kanal YouTube Humor Sufi Official.

"Semenjak aku jatuh miskin, ia pergi meninggalkanku," jawab sang sahabat.

"Ya sudah yang sabar ya, yang penting kamu jangan tinggalkan sholat, dan jangan lupa berdoa kepada Allah agar Allah membukakan pintu rezeki untukmu," tutur Abu Nawas.

"Alhamdulillah aku tidak pernah tinggalkan sholat, bahkan aku sekarang rajin berpuasa sunnah," balas sahabatnya.

"Oh iya, ngomong-ngomong mana nih makanannya? Dari tadi kenapa belum keluar," celetuk Abu Nawas.

"Maaf Abu Nawas, aku sudah tidak punya apa-apa. Aku sendiri kadang sehari makan, kadang tidak," ujar sahabatnya.

Mendengar hal itu membuat hati Abu Nawas makin tersenyum. "Kenapa tidak mencari kerja? Upahnya kan bisa untuk beli makanan?" tanya Abu Nawas.

"Setiap hari aku keluar untuk cari pekerjaan tapi belum juga dapat. Mungkin belum rezekiku," jawab sang sahabat.

"Kalau mau nekat sih sebenarnya aku bisa, bahkan aku bisa menjadi raja dan kaya raya. Tapi itu hanya sementara, setelah itu aku mati diterkam binatang buas di hutan belantara," kata sahabatnya melanjutkan.

"Maksudmu bagaimana?" tanya Abu Nawas heran.

Kemudian sahabatnya itu memberi tahu tentang sayembara yang diadakan rajanya. Mendengar sayembara tersebut, Abu Nawas terdiam sejenak. Tiba-tiba terlintas di benak Abu Nawas sebuah ide yang cemerlang.

"Kamu ingin hidup kaya? Aku akan membantumu. Sekarang juga antarkan aku ke hadapan rajamu. Aku mau mendaftar menjadi raja," ucap Abu Nawas.

"Kamu gila ya! Jangan Abu Nawas, itu sama saja bunuh diri," cegah sahabatnya.

"Sudahlah, turuti saja perkataanku," timbal Abu Nawas.

Maka diantarlah Abu Nawas ke istana untuk menemui sang raja.

"Ada perlu apa kalian datang kemari?" tanya sang raja.

"Maaf tuan raja, hamba Abu Nawas dari negeri seberang, ingin mendaftar menjadi raja. Itu pun kalau tuan raja mengizinkan," ucap Abu Nawas.

"Oh tentu saja boleh. Siapa pun dipersilahkan menjadi raja. Tapi ada dua syarat yang harus dijalani," ujar raja.

"Hamba siap paduka yang mulia. Tapi hamba minta satu permintaan. Izinkan sahabat hamba ini menjadi pengawal pribadi hamba," kata Abu Nawas sambil menunjuk sahabatnya yang berdiri di sampingnya.

"Oh silakan saja. Saat menjadi raja selama setahun, kau berhak atas segala sesuatunya, termasuk mengatur semua prajurit kerajaan beserta para menteri. Tapi ketika masamu menjadi raja berakhir, sahabatmu juga harus ikut kau dibuang ke hutan belantara," timpal sang raja. 

Sahabat Abu Nawas ini kaget dan sempat menolak dijadikan pengawal pribadinya, namun akhirnya Abu Nawas berhasil membujuknya.

Mendengar ada yang melamar menjadi raja lagi membuat masyarakat penasaran. Sebagian menertawakan kebodohan tersebut, sementara yang lain merasa iba dan kasihan.

Abu Nawas akhirnya diangkat menjadi raja dan diberi segala kemewahan serta kemudahan fasilitas layaknya baginda raja.

Ternyata berbeda dengan dua pemuda sebelumnya, Abu Nawas tidak berpesta pora dan foya-foya, namun ia membuat beberapa tindakan selama menjadi raja.

Tiga bulan pertama Abu Nawas memerintah ribuan prajurit untuk membabat habis hutan belantara dan memindahkan semua binatang buas ke tempat lain. Sebagai raja tentu perintahnya harus dipatuhi. Setelah tiga bulan berlalu, hutan belantara tempat ia akan dibuang kini menjadi tanah kosong yang siap huni.

Tiga bulan kedua Abu Nawas memerintahkan para arsitek membuat istana megah untuk dirinya, tentunya dengan uang kerajaan yang dikuasai. Abu Nawas bisa membangun apa saja termasuk membangun istana di tanah yang dulunya adalah hutan belantara. Dalam jangka waktu tiga bulan berdirilah istana megah dan kokoh.

Tiga bulan ketiga, Abu Nawas memerintahkan para prajurit membawakan harta dan perabotan dikirim ke istana yang baru saja dibangun. Tiga bulan terakhir, Abu Nawas menawarkan kepada masyarakat siapa saja yang mau pindah di wilayah istananya akan dibuatkan rumah dan diberi modal uang untuk berdagang.

Kesempatan tersebut tidak disia-siakan warga. Ratusan orang mendaftarkan diri untuk pindah ke sekitaran istana Abu Nawas.

Selama tiga bulan terakhir tempat yang tadinya hutan belantara kini berubah menjadi permukiman penduduk, bahkan di sana Abu Nawas mempunyai istana dengan dipenuhi harta kekayaan.

Akhirnya habislah masa jabatan Abu Nawas sebagai raja. Sesuai perjanjian, Abu Nawas dan sahabatnya dibuang ke hutan belantara yang kini sudah menjadi permukiman penduduk.

Sesampainya di sana, Abu Nawas dan sahabatnya memasuki istana barunya. "Ini semua untukmu. Kau sekarang sudah menjadi orang kaya raya, tapi jangan lupa bersedekah," tutur Abu Nawas.

Sahabatnya itu terkejut bukan main. Ia langsung merangkul Abu Nawas dan mengucapkan terima kasih. Akhirnya Abu Nawas pun pamit pulang kembali ke negerinya.

Wallahu a'lam bisshawab

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini