Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Telaah Filsafat Idul Fitri Menurut Ayatullah Makarim Shirazi

Telaah Filsafat Idul Fitri Menurut Ayatullah Makarim Shirazi
Idul Fitri. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

“Sesungguhnya beruntunglah orang yang membersihkan diri (dengan beriman)” Qs. Al-A’la:87 [14]

Allah swt. telah menciptakan manusia dengan sebaik-baiknya penciptaan untuk mencapai kesempurnaan agung dan mulai di hadapan-Nya. Hal ini dapat dibuktikan melalui firman-Nya yang berbunyi: “…. dan Kami lebihkan mereka di atas banyak makhluk yang Kami ciptakan dengan kelebihan yang sempurna.” (Qs. Al-Isra: [17]: 70)

Dalam argumentasi penciptaan (Burhan-e fitrah) juga dijelaskan tujuan utama penciptaan manusia ialah menyempurnakan dirinya di realitas, sebagaimana ia diciptakan dalam keadaan sempurna dan hendaknya kembali dalam keadaan sempurna. Namun untuk kembali dalam keadaan suci, manusia membutuhkan berbagai usaha dalam kehidupannya, sebagaimana diterangkan dalam potongan Qs. Al-Isra ayat 84 yang artinya, “Katakanlah (Muhammad), Setiap orang berbuat menurut keadaannya masing-masing…”. Dalam potongan Qs. Al-Isra ayat 84, para filsuf Muslim, seperti Syekh.

Israq dan Mulla Sadra memandang manusia dapat mencapai kesempurnaan dan kebahagiaan yang agung dan transendental melalui berbagai usaha penyucian diri. Artinya, kesempurnaan diberikan kepada mereka yang berusaha untuk mencapai kesempurnaan dirinya, bukan orang lain.

Berangkat dari wacana kesempurnaan di atas, Ayatullah Makarim Shirazi, salah satu filsuf dan Mufassir Persia abad 21, menyebutkan Allah swt. telah memerintahkan seluruh orang beriman dalam Qs. Al-Baqarah ayat 183 untuk berpuasa selama sebulan penuh untuk meningkatkan ketakwaannya di hadapan Allah swt.

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement