DALAM podcast Cerita Untung, ustadz Muksit Haetami, tour leader dari sebuah travel agent haji dan umrah menceritakan pengalaman seorang jamaah yang mengaku tidak melihat Ka’bah saat melakukan thawaf. Jamaah haji tersebut baru bisa melihat setelah thawaf kedua di putaran ketiga.
Peristiwa itu terjadi pada 2015, yang dialami jemaah ibu-ibu asal Bogor.
"Awalnya selesai umroh, keluarga dari ibu mengetuk pintu kamar dan meminta saya ke tempat ibunya. Di dalam kamar ibu itu sudha menanggis. Saat ditanya dia mengaku tidak melihat kakbah. Tapi hanya melihat orang berputar putar saja," tutur Muksit dalam podcastnya.
Untuk menenangkan, akhirnya ibu tersebut kembali di ajak umroh. Di putaran pertama, kedua masih belum melihat. "Di putaran ketiga ibu tadi tiba-tiba menangis sejadi-sejadinya karena dia akhirnya bisa melihat ka'bah," tambah Muksit yang menjadi pendamping jemaah haji dan umrah sejak 2012.
Konsultan Ibadah Manasik Haji 1444/2023 Ahmad Kartono juga menyampaikan adanya kejadian yang tidak melihat kakbah. "Pernah ada jemaah di tahun 2009 masuk masjidil haram tapi ga bisa liat kabah," ujar Kartono tanya menyebutkan detil peristiwa tersebut.
Dia memilih menjelaskan 4 hikmah melaksanakan ibadah haji. Pertama adalah menguatkan akidah. Agar Thauhid menjadi kuat. Diteaskan Kartono, masuk masjidil haram liat kabah, bukan berarti kita menyembah kabah. Karena kakbah itu hanya tanda arah kiblat.
"Masih banyak yang menganggap inti masjidil haram itu kabah. Padahal, lambang ketauhidan ibadah haji itu witirnya menggunakan talbiyah supaya jangan lepas Allah dari hati kita," ujarya.
Hikmah kedua, saat berhaji, jemaah memasuki sesi ibadah yang berarti memasuki alam ruhani ketika ihram mengucap niat labbaika allohuma umrotan, artinya sudah bukan duniawi lagi.
Nabi mengatakan dalam niat hajinya, beliau berhaji tidak untuk didengar, tidak untuk pamer, dan tidak untuk minta ditinggikan kedudukannya dibanding orang lain.