MAKKAH - Berada di sekitar area Masjidil Haram, Makkah jamaah haji tetap harus waspada terhadap kemungkinan aksi kejahatan yang dilakukan orang-orang tidak bertanggung jawab.
Mereka adalah orang orang yang melakukan berbagai cara untuk mendapatkan keuntungan dari jamaah Indonesia, mulai dari modus kursi roda, potong rambut sampai pura pura memberikan bantuan tapi kemudian melakukan penodongan.
Seperti disampaikan petugas perlindungan jamaah (Linjam) Abdullah Faishol. Dia menceritakan dua aksi tipu-tipu yang pura pura menawarkan bantuan jasa motong rambut untuk tahalul. Tapi setelah itu mereka merengek-rengek minta uang, kadang-kadang dengan cara memaksa.
"Jika tidak memberi terus saja dikuntit sampai keluar duit. Kadang-kadang mereka minta 100 riyal, ada minta uang Jokowi (Rp100 ribu.). Petugas di pintu Marwah sudah paham, hanya jamaahnya ketemu orang Arab merasa senang," kata Faishol kepada Media Center Haji (MCH).
Selain jasa potong rambut tahalul, ada pula modus pendorongan kursi roda ilegal. Dikataan Faishol, petugas sektor khusus di pos terminal Syib Amir, cukup hati-hati dengan petugas kursi dorong. Mereka yang mau mendorong lansia dari jamaah haji Indonesia diberikan kartu berupa nomor sampai kembali ke tempat dan menyerahkan kartu untuk ditukar dengan uang sebagai pengganti ongkos.

Untuk sekarang ongkos kursi roda (arabah) dari terminal Syib Amir, tawaf, Sa'i dan kembali ke terminal Syib Amir ongkosnya 250 riyal. Mereka yang diberi kartu dan angkut lansia diseleksi petugas di pos yaitu yang pakai rompi resmi, karena jika tidak pakai rompi resmi, sering ditangkap polisi dan digantikan dengan yang resmi. Karena pendorong ilegal kadang tidak mengurus dan menangani dengan baik.
Tapi, sejak Senin (12/6) pendorong ilegal ini mengelabuhi petugas di pos terminal dengan memakai baju resmi (berupa rompi) warna abu-abu dan pakai tasreh (semacam izin resmi) untuk mendapatkan nomor agar bisa menangkat, namun di tengah jalan dilempar ke temannya, tinggal jubah putih atau hitam.
"Karena kalau masuk pakai rompi resmi akan ketahuan yang menggunakan baju resmi, karena ini ada komunitasnya. Ketika masuk, beroperasi di dalam baik di ruang tawaf mau sa'i, kadang-kadang selamat dan kadang ditangkap," tegasnya.