Cerita lain dialami salah satu jamaah berinisial AS. Dia ditodong menggunakan sajam dan meminta tas pinggang yang di dalamnya berisi uang dan paspor oleh orang yang pura pura menawarkan bantuan. Korbannya bernama AS. Saat dia keluar dari Masjidil Haram dan mengikuti rombongan yang bukan kelompoknya. Menjelang sampai bus, AS baru sadar rombongan yang diikuti bukan rombongannya.
Dalam kondisi bingung, seseorang menawari tumpangan dengan pura-pura akan diantarkan ke hotel. Di tempat yang tidak diketahui, orang yang tadinya menawarkan pertolongan, memaksa menyerahkan tas pinggang milik korban. Di dalam tas itu berisi handphone, uang Rp6,6 juta, STNK, KTP, dan 1,250 riyal.
Menanggapi serangkaian aksi tipu tipu dan kejahatan terhadap jamaah, Kepala Bidang Perlindungan Jamaah Petugas Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) Harun Ar Rasyid mengatakan, telah mengidentifikasi modus pelaku kejahatan. Hasil identifikasi itu dijadikan bahan sosialisasi kepada jamaah baik sebelum berangkat maupun ketika tiba di Tanah Cuci.
“Petugas sudah mensosialisasikan apa saja yang harus dihindari,” katanya.
Salah salah satu modus operandi pelaku kejahatan adalah mengincar jamaah yang lepas dari rombongan, lansia, dan seperti tidak tahu arah jalan pulang. Pelaku kemudian mendekat pura-pura menolong dengan mengantar pulang.
“Kemudian melakukan perbuatan yang tidak semestinya,” jelasnya.
Karena itu, lannjut Harun, jamaah sudah diwanti-wanti sejak awal agar berangkat dan pulang dari Masjidil Haram menggunakan bus shalawat. Termasuk menghindari menggunakan taksi atau mobil sewa, kecuali jika mendesak. Selain itu, ketua rombongan dan jamaah lain agar lebih care terhadap jamaah lansia ketika pergi ke Masjidil Haram sehingga tidak sampai terpisah dari rombongan.
(Dani Jumadil Akhir)