JEDDAH - Jam di handphone (HP) sudah memperlihatkan angka 22.50 waktu Arab Saudi (WAS), ketika kaki sudah mulai merasa lelah mengitari sudut sudut Kota Tua Jeddah, Arab Saudi.
Inilah salah satu destinasi wajib jika mengunjungi Jeddah. Bangunan tua yang masuk daftar situs warisan bersejarah dunia (Unesco). Dalam situs Unesco, area selua 113,58 hektare tersebut resmi terdaftar pada 2014.
Meski waktu sudah berjalan menuju dini hari, belum terlihat kawasan itu terlelap. Jalanan di dalam dan luar kawasan area tersebut masih macet.
Klakson beberapa kali berbunyi menjadi penanda pengemudi mulai lelah dan tidak sabar dengan kemacetan. Saat melintas di deret mobil yang mengular menunggu giliran jalan, bau kampas rem dan panas mesin menyengat hidung.
Tapi inilah kota tua yang bersejarah yang sepertinya menolak mati dalam perjalanan Jeddah menjadi salah satu kota tersibuk di Arab Saudi.
Dalam wajah berbeda, kota tua mempertahankan status sebagai cermin perkembangan terakhir perdagangan laut Samudra Hindia setelah pembukaan Terusan Suez pada tahun 1869 dan pengenalan kapal uap yang menghubungkan Eropa dengan India dan Asia.

Jejak itu masih terlihat dengan bangunan tua berbentuk rumah-rumah menara megah yang dihiasi oleh Roshan kayu besar yang dibangun pada akhir abad ke-19 oleh para elit pedagang kota.
Di beberapa sudut juga masih terlihat rumah-rumah batu koral yang lebih rendah, masjid, ribat-s, suq dan lapangan umum kecil yang menjadi ruang terbuka untuk saling bertegur sapa.
Simbolis Jeddah sebagai pintu gerbang ke Makkah bagi para peziarah Muslim yang mencapai Arab sehingga membentuk populasi kosmopolitan tempat umat Islam dari Asia, Afrika, dan Timur Tengah tinggal dan bekerja, masih terjaga.