Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Kisah Ki Ageng Wonokusumo Jadi Pelantun Adzan di Zaman Majapahit, Sama seperti Bilal bin Rabah

Suharjono , Jurnalis-Minggu, 24 Desember 2023 |08:24 WIB
Kisah Ki Ageng Wonokusumo Jadi Pelantun Adzan di Zaman Majapahit, Sama seperti Bilal bin Rabah
Ilustrasi kisah Ki Ageng Wonokusumo pelantun adzan di zaman Majapahit seperti Bilal bin Rabah. (Foto: Shutterstock)
A
A
A

INILAH kisah Ki Ageng Wonokusumo adzan saat zaman Kerajaan Majapahit. Hal ini sama seperti dilakukan sahabat Bilal bin Rabah.

Pada zaman Rasulullah Shalallahu alaihi wassalam, Bilal bin Rabah dipercaya mengumandangkan adzan. Lalu ketika masa Kerajaan Majapahit ada hal serupa, Ki Ageng Wonokusumo yang selalu mengumandangkan panggilan sholat tersebut.

Berbicara Gunungkidul tidak bisa dilepaskan dari cerita-cerita pelarian Majapahit dan sejarah perkembangan Mataram Islam. Salah satunya adalah petilasan Ki Ageng Wonokusumo di Dusun Wonotoro, Desa Jatiayu Karangmojo.

Ki Ageng Wonokusumo tidak bisa lepas dari sejarah Kerajaan Mataram Islam. Wonokusumo tidak bisa lepas dari Sunan Pandanaran di Bayat Klaten serta KI Ageng Giring III.

Wonokusumo merupakan anak dari Ki Ageng Giring III. Setelah besar, dia pergi ke arah timur laut dan tinggal di Desa Gedangrejo Karangmojo.

Namun, kumandang adzan yang dilakukan tidak pernah terdengar baik dari wilayah Giring, Sodo Paliyan, maupun dari Bayat Klaten. Akhirnya, Wonokusumo mencari tempat yang tinggi di Bukit Wonotoro. 

Dari situlah lantunan adzan terdengar sampai Giring tempat ayahnya, serta sampai ke Tempat Sunan Pandanarang di Bayat.

Bahkan, upaya berhubungan jarak jauh ketiganya melalui kebatinan bisa dilakukan dari puncak bukit tersebut.

Menurut Daryanto, juru kunci Makam Ki Ageng Wonokusumo, cerita mengenai Ki Ageng Wonokusumo didapatnya dari leluhur secara turun-temurun.

Dia menuturkan, Ki Ageng Wonokusumo merupakan salah satu tokoh Islam yang disegani dan ditakuti. Bahkan, dianggap musuh besar oleh penjajah Belanda yang selalu ingin membunuhnya.

Namun, para pengikut dan sahabat Wonokusumo selalu bisa mengelabui Belanda. Hingga akhirnya pada suatu saat terjepit, para pengikut serta sahabat mengatakan bahwa Ki Ageng Wonokusumo telah meninggal dunia.

Lokasi makam Ki Ageng Wonokusumo berada di lokasi yang tinggi, di sekitarnya juga digunakan pemakaman umum. Warga sekitar pun tidak berani memakamkan warga berada lebih tinggi dari makam Wonokusumo.

Wallahu a'lam bisshawab

(Hantoro)

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement