Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni (dosa) karena mempersekutukan-Nya (syirik), tetapi Dia mengampuni apa (dosa) yang selain (syirik) itu bagi siapa yang Dia kehendaki.” Mendengar jawaban itu, Ali menjawab, “Benar. Tapi bukan hanya itu.” Maksudnya adalah apa yang dibacakan oleh sebagian kaum muslimin tersebut, sudah benar. Akan tetapi bukan ayat itu yang dimaksud.
Selanjutnya, kaum Muslimin yang lain mencoba menjawab pertanyaan yang diajukan Sayyidina Ali, dengan membacakan Surat An-Nisa ayat 110:
وَمَنْ يَّعْمَلْ سُوْۤءًا اَوْ يَظْلِمْ نَفْسَهٗ ثُمَّ يَسْتَغْفِرِ اللّٰهَ يَجِدِ اللّٰهَ غَفُوْرًا رَّحِيْمًا
Artinya: “Siapa yang berbuat kejahatan atau menganiaya dirinya, kemudian memohon ampunan kepada Allah, niscaya akan mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.”
Mendengar hal tersebut, Sayyidina Ali menanggapi dengan jawaban sebelumnya, “Benar. Tapi bukan hanya itu.”.
Kaum Muslimin yang lain juga mencoba menyampaikan jawaban yang berbeda dari sebelumnya. Kali ini mereka membacakan Surat Az-Zumar ayat 53:
قُلْ يٰعِبَادِيَ الَّذِيْنَ اَسْرَفُوْا عَلٰٓى اَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوْا مِنْ رَّحْمَةِ اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ يَغْفِرُ الذُّنُوْبَ جَمِيْعًا ۗ
Artinya: “Katakanlah (Nabi Muhammad), ‘Wahai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas (dengan menzalimi) dirinya sendiri, janganlah berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa semuanya.’”