Dengan reaksi yang sama, Ali tetap menanggapi jawaban tersebut dengan mengatakan, “Jawaban kalian benar. Tapi bukan itu yang dimaksud.”
Singkat cerita, kaum Muslimin diam dan menahan diri untuk tidak menjawab pertanyaan tersebut. Melihat mereka diam, Sayyidina Ali bertanya lagi, “Apa yang sedang kalian pikirkan?” Mereka menjawab, “Tidak ada.”
Sebetulnya tebak-tebakan Sayyidina Ali ini bertujuan menggairahkan dan memancing keingintahuan dari kaum Muslimin. Ini agar mereka memusatkan perhatian dan mendengarkan apa yang akan ia sampaikan.
Setelah dirasa cukup memperhatikan, Sayyidina Ali berkata:
سَمِعْتُ حَبِيْبِيْ رَسُوْلَ اللّٰهِ صَلَّى اللّٰهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ يَقُوْلُ: اَرْجَى اٰيَةٍ فِى كِتَابِ اللّٰهِ هِيَ قَوْلُ الْحَقِّ سُبْحَانَهُ وَ تَعَالَى: وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ طَرَفَيِ النَّهَارِ وَزُلَفًا مِّنَ الَّيْلِ ۗاِنَّ الْحَسَنٰتِ يُذْهِبْنَ السَّيِّاٰتِۗ ذٰلِكَ ذِكْرٰى لِلذّٰكِرِيْنَ
Artinya: “Aku mendengar kekasihku, Rasulullah SAW, bersabda, ‘Ayat yang paling memberikan harapan di dalam Alqur’an adalah firman Allah SWT: “Dirikanlah shplat pada kedua ujung hari (pagi dan petang) dan pada bagian-bagian malam. Sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik menghapus kesalahan-kesalahan. Itu adalah peringatan bagi orang-orang yang selalu mengingat Allah.”’” (QS. Hud [11]:114)
Setelah membacakan surat yang dimaksud, Sayyidina Ali melanjutkan apa yang disampaikan Nabi. Nabi bersabda: “Wahai Ali, jika salah seorang dari kalian bangun dan selesai dari wudhunya, maka akan berjatuhan semua dosanya. Apabila ia menghadap ke hadirat Allah dengan wajah (penuh perhatian) dan hati (perasaan) serta tidak terdistraksi, maka telah diampuni oleh Allah SWT segala dosa yang ia miliki, sehingga seakan-akan ia baru lahir dari rahim ibunya. Namun, Apabila ia melakukan dosa di antara dua sholat maka dosa itu (hanya dicatat) baginya (di waktu tersebut).”