Salah satu keutamaan utama adalah kemungkinan husnul khatimah, di mana seseorang mencapai penghujung hidupnya dengan amal saleh seperti puasa Ramadhan. Wafat dalam keadaan seperti ini bisa menjadi pembuka jalan menuju surga. Selain itu, dosa masa lalu diampuni bagi yang menjalani Ramadhan dengan iman dan ihsan.
Hadits pendukung dari Abu Hurairah RA:
مَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
Man shâma ramadhâna îmânan wa ihtisâban ghufira lahu mâ taqaddama min dzanbihi.
Arti: Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.
Wafat di Ramadhan bisa meraih pahala besar karena bulan ini melipatgandakan amal, sebagaimana dijanjikan dalam Surat An-Nahl ayat 97:
مَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِنْ ذَكَرٍ أَوْ أُنْثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَلَنُحْيِيَنَّهُ حَيَاةً طَيِّبَةً ۖ وَلَنَجْزِيَنَّهُمْ أَجْرَهُمْ بِأَحْسَنِ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ
Man ‘amila shâlihan min dzakarin au untsâ wa huwa mu’minun fa lanuhyiyannahu hayâtan thayyibah, wa lanajziyannahum ajrahum bi ahsani mâ kânû ya’malûn.
Arti: Barangsiapa mengerjakan amal saleh, baik laki-laki maupun perempuan dalam keadaan beriman, maka sesungguhnya Kami akan memberikan kepadanya kehidupan yang baik dan Kami akan membalas mereka dengan pahala yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan.