Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Khutbah Jumat: Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan

Rahman Asmardika , Jurnalis-Jum'at, 12 Juni 2026 |11:01 WIB
Khutbah Jumat: Tanda-tanda Haji Mabrur dalam Kehidupan Sosial dan Keagamaan
Ilustrasi.
A
A
A

Puncak ibadah haji pada hakikatnya bukanlah ketika seseorang membaca talbiah atau melaksanakan ihram dan wukuf di Arafah, tidak juga ketika ia pulang ke kampung halamannya dengan selamat, melainkan ketika ia meraih predikat haji yang mabrur. Orang yang mendapatkan predikat ini akan mendapatkan balasan spesial dari Allah berupa surga, sebagaimana yang ditegaskan oleh Baginda Nabi dalam salah satu riwayat, yaitu:

الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ

Artinya, “Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga.” (HR. Bukhari & Muslim).

Namun, ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah, bagaimana cara kita mengetahui bahwa haji yang kita laksanakan termasuk dalam kategori haji yang mabrur? Caranya adalah dengan melihat kebiasaan-kebiasaan kita sehari-hari. Sebab, haji yang mabrur memiliki tanda-tanda khusus baik secara sosial maupun keagamaan.

Pertama, tanda-tanda secara sosial. Adapun tanda-tanda haji mabrur dalam kehidupan sosial adalah semakin tumbuhnya kepedulian terhadap sesama, mulai dari semakin ringan tangan dalam membantu orang lain, serta semakin baik pula tutur kata dan akhlaknya dalam kehidupan sehari-hari.

Hal ini sebagaimana disampaikan oleh Rasulullah ketika ditanya tentang tanda-tanda haji mabrur, Nabi menjawab bahwa di antaranya adalah memberi makan kepada orang lain dan bertutur kata yang baik. Dalam riwayat yang berasal dari sahabat Jabir bin Abdullah, Nabi bersabda:

عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةُ. قَالَ: وَمَا بِرُّهُ؟ قَالَ: إِطْعَامُ الطَّعَامِ وَطِيبُ الْكَلاَمِ

Artinya, “Dari Jabir bin Abdullah, dari Nabi saw, Nabi bersabda: ‘Haji yang mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga’. Lalu sahabat bertanya, ‘Apa tandanya kemabrurannya?’ Nabi menjawab: ‘Memberi makan (orang lain) dan bertutur kata yang baik’.” (HR. At-Thabrani dalam Mu’jamul Awsath).

Kedua, tanda-tanda secara keagamaan. Sedangkan tanda haji mabrur secara keagamaan sebagaimana disampaikan oleh Imam al-Ghazali adalah ia akan kembali dalam keadaan semakin tidak terikat dan tidak tamak pada dunia dan segala isinya, sebaliknya ia akan semakin condong pada akhirat, serta senantiasa bersiap diri dengan amal saleh untuk bertemu dengan Allah, setelah ia selesai menunaikan ibadah haji di Baitullah.

 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement