Imam al-Ghazali dalam kitab Ihya Ulumiddin, jilid I, halaman 261, mengatakan:
عَلَامَتُهُ أَنْ يَعُودَ زَاهِدًا فِي الدُّنْيَا، رَاغِبًا فِي الْآخِرَةِ، مُتَأَهِّبًا لِلِقَاءِ رَبِّ الْبَيْتِ بَعْدَ لِقَاءِ الْبَيْتِ
Artinya, “Tandanya adalah ia pulang (dari haji) dalam keadaan zuhud terhadap dunia, sangat menginginkan kebaikan akhirat, serta bersiap diri untuk bertemu dengan Tuhan Pemilik Baitullah, setelah ia berjumpa dengan Baitullah.”
Ma’asyiral Muslimin jamaah Jumat yang dirahmati Allah Dengan demikian, pelajaran penting yang dapat kita ambil dari khutbah ini adalah bahwa haji mabrur tidak cukup hanya dinilai dari sah atau tidaknya segala rangkaian manasik yang dilaksanakan di Tanah Suci, tetapi yang tak kalah penting adalah perubahan nyata yang tampak dalam keseharian setiap Muslim setelah kembali ke kampung halaman.
Secara sosial, haji mabrur dapat dilihat dari kedermawanan dalam memberi makan kepada sesama serta lembutnya tutur kata yang keluar dari mulutnya. Sedangkan secara keagamaan, ia ditandai dengan sikap zuhud terhadap dunia, cinta pada akhirat, serta kesiapan diri melalui amal kebajikan untuk berjumpa dengan Allah, Pemilik Baitullah.
Namun perlu kita pahami kembali, bahwa meskipun haji mabrur memiliki tanda-tanda baik dalam kehidupan sosial maupun keagamaan, hal itu tidak berarti kita boleh menilai dan memvonis kemabruran haji seseorang. Sebab, diterima atau tidaknya suatu ibadah pada hakikatnya merupakan rahasia dan hak prerogatif Allah.
Adapun tanda-tanda yang telah disebutkan hendaknya dipahami sebagai panduan muhasabah bagi setiap jamaah haji untuk terus memperbaiki diri setelah kembali dari Tanah Suci. Adapun bagi orang lain, tanda-tanda tersebut tidak boleh dijadikan alat untuk mengukur kesalehan orang lain. Demikian khutbah Jumat tentang tanda-tanda haji mabrur dalam kehidupan sosial dan keagamaan. Semoga menjadi khutbah yang membawa berkah dan manfaat bagi kita semua. Amin ya rabbal alamin.
بَارَكَ اللهُ لِيْ وَلَكُمْ، وَنَفَعَنِيْ وَاِيَاكُمْ بِمَا فِيْهِ مِنَ اْلآيَاتِ وَالذِّكْرِ الْحَكِيْمِ، وَتَقَبَّلَ مِنِّيْ وَمِنْكُمْ جَمِيْعَ أَعْمَالِنَا إِنَّهُ هُوَ الْحَكِيْمُ الْعَلِيْمُ. أَقُوْلُ قَوْلِيْ هَذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللهَ لِيْ وَلَكُمْ وَلِلْمُسْلِمِيْنَ فَاسْتَغْفِرُوْهُ اِنَّهُ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ