Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Khutbah Jumat: Melatih Optimisme dan Husnuzan kepada Allah dalam Menghadapi Takdir

Rahman Asmardika , Jurnalis-Jum'at, 25 September 2026 |09:08 WIB
Khutbah Jumat: Melatih Optimisme dan Husnuzan kepada Allah dalam Menghadapi Takdir
Ilustrasi.
A
A
A

Sesuatu yang menurut kita buruk, belum tentu seluruhnya buruk. Sakit, misalnya, dapat menjadi ujian. Tetapi sakit juga dapat menjadi sebab gugurnya dosa dan menjadi jalan bagi seseorang untuk semakin dekat kepada Allah.

Musibah juga dapat membuka jalan bagi kebaikan yang sebelumnya tidak kita bayangkan.

Kita dapat mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa alam. Ketika Gunung Merapi meletus, abu vulkanik dapat merusak tanaman dan membuat masyarakat mengalami kerugian. Namun, setelah beberapa waktu, material vulkanik tersebut dapat membuat tanah menjadi lebih subur. Sesuatu yang pada awalnya terlihat sebagai bencana ternyata dapat membawa manfaat pada waktu berikutnya.

Begitulah kehidupan. Tidak semua kebaikan langsung terlihat pada saat sebuah peristiwa terjadi.

Karena itu, seorang Muslim perlu membiasakan diri bertanya, “Apa hikmah yang Allah kehendaki dari peristiwa ini?” Pertanyaan seperti ini membantu kita menjaga hati agar tidak mudah berprasangka buruk kepada Allah.

Jamaah Jumat yang dirahmati Allah,

Optimisme juga merupakan bagian dari kekuatan iman. Allah berfirman dalam Surah Ali Imran ayat 139:

وَلَا تَهِنُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَنْتُمُ الْأَعْلَوْنَ إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ

Artinya: “Janganlah kamu merasa lemah dan jangan pula bersedih hati, padahal kamu paling tinggi derajatnya jika kamu orang-orang yang beriman.”

Ayat ini mengajarkan agar orang beriman tidak menyerah karena kesulitan. Kesedihan boleh dirasakan, tetapi kesedihan tidak boleh membuat kita kehilangan harapan.

Rasulullah SAW juga mengajarkan pentingnya optimisme. Dalam sebuah hadis disebutkan:

لَا عَدْوَى وَلَا طِيَرَةَ، وَيُعْجِبُنِي الْفَأْلُ الصَّالِحُ، الْكَلِمَةُ الْحَسَنَةُ

Artinya: “Tidak ada penularan penyakit dengan sendirinya dan tidak ada tathayyur (anggapan adanya pertanda buruk). Aku menyukai al-fa’l yang baik, yaitu perkataan yang baik.”

Hadis ini menunjukkan pentingnya perkataan yang baik dan sikap optimistis. Seorang Muslim tidak dibentuk untuk selalu mencari pertanda buruk dari kehidupan.

Karena itu, jangan membiasakan diri mengucapkan kata-kata yang membuat diri sendiri semakin lemah. Jangan setiap persoalan langsung disimpulkan sebagai akhir dari segala-galanya. Jangan ketika menghadapi kegagalan kemudian mengatakan bahwa hidup kita sudah tidak memiliki masa depan.

 

Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita muslim lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement