KETIKA Anda mengunjungi Kota Jeddah, Arab Saudi, pasti yang terlintas dalam benak adalah makanan khas Arab Saudi seperti Nasi Kabsa, Shawarma, Khubz, Zaitun dan Samboosa. Makanan yang akan selalu Anda temui di setiap sudut kota yang berarti Nenek ini.
Ungkapan tersebut rasanya bisa segera Anda abaikan. Anda akan dengan mudah melihat rumah makan yang menyajikan cita rasa khas Indonesia. Ada rumah makan dengan cita rasa khas Betawi, Sunda, Jawa mapupun Madura. Dengan kocek tebal, Anda bisa mengunjungi semua rumah makan tersebut.
Tapi nanti dulu. Ada lokasi yang dijadikan ajang jual makanan bercita rasa Indonesia di satu sudut Kota Jeddah. Pasar Madura, demikian mukimin asal Indonesia menyebutnya. Pasar tersebut terletak di depan Hotel Norcom, hotel yang dijadikan Panitia Penyelenggara Ibadah Haji (PPIH) sebagai hotel transit di KM 03, Jeddah.
Seluruh pedagang yang menyajikan makanannya secara lesehan merupakan mukimin asal Madura. Mereka sudah menetap tidak kurang dari lima tahun di Jeddah. Pada musim haji ini, mereka memanfaatkannya dengan berjualan secara lesehan di depan hotel transit tersebut.
Anda bisa menyantap berbagai hidangan sepeti sate ayam atau kambing, bakso, pecal sayur, pecal lele, dan berbagai jenis gorengan. Sebagai pendamping makanan, dijajakan juga minuman seperti es campur, teh manis, atau air putih. Harganya tidak akan menguras kocek Anda. Harga makanan yang dijual hanya dipatok 1-6 reyal.
Okezone yang menyambangi lokasi tersebut merasa seperti di Indonesia. Pasar seperti ini biasanya muncul saat-saat tertentu saja. Misalnya saat bulan puasa atau ada hajatan di satu daerah. Tidak perlu berbahasa Arab untuk memesan makanan di sini. Itulah yang menbuat Anda seperti berada di Indonesia saat mengunjungi Pasar Madura di Jeddah.
Berdasarkan keterangan mukimin yang ditemui di lokasi, Pasar Madura sudah ada sejak Hotel Norcom digunakan sebagai transit atau sekira 15 tahun silam. Pasar Madura hanya berlangsung selama berlangsungnya prosesi pemulangan jamaah haji ke Tanah Air. Lokasinya persih di atas sebuah lapangan sepakbola kampung.
Suasannya pun remang-remang karena hanya mengandalkan penerangan jalanan. Namun selalu ramai dikunjungi jamaah haji Indonesia yang sedang transit di hotel. Jamaah haji tampak lahap menyantap hidangan karena sudah lama tidak merasakan makanan dengan cita rasa Indonesia. Ratusan pedagang secara berjajar menyajikan makanannya.
Uswatun (23), salah seorang pedagang menyatakan sudah menjajakan makanan sejak hari perama pemulangan jamaah haji Indonesia. Kegiatan ini sudah dilakukan sejak empat tahun lalu. Dia mengaku menjual bakso dan es campur.
"Saya sudah berjualan selama empat tahun di sini. Omsetnya sebanyak 700 reyal dan keuntungan bersih sekitar 300 reyal per malam," kata Uswatun.
Wanita asal Madura ini mengaku, tidak perlu menyewa tempat untuk berjualan. Tahun lalu, dirinya masih dipungut sewa lapak sebesar 650 reyal selama proses pemulangan haji. Sehingga keuntungan tahun ini lebih banyak ketimbang tahun sebelumnya.
"Saya dan pedagang di sini jualan selama 24 jam. Saya gantian sama suami. Kalau siang kami pindah ke bawah pohon karena panas," ungkapnya.
(Stefanus Yugo Hindarto)