Bentuk mihrabnya juga menawan, dengan tulisan ayat-ayat Alquran, buah tangan para ahli ukir dan kaligrafi Arab Saudi. Mimbar khutbah dengan tinggi sekira 1,5 meter begitu terlihat jelas ketika khutbah berlangsung. Pada salah satu bagian dindingnya terdapat prasasti yang menceritakan ihwal dirubahnya kiblat umat Islam.
Ditulis dalam beberapa bahasa termasuk arab melayu, di dinding tersebut terdapat anjuran bagi jamaah haji yang berziarah untuk melakukan salat sunat dua rakaat di masjid ini.
Menggunakan karpet merah, ketika memasuki masjid itu terasa di Masjid Nabawi, terasa lembut dan tebal. Kombinasi garis saf berwarna krem, hitam, hijau, maka setiap kali salat di masjid ini ingin berlama-lama berdiam diri di masjid itu.
Berkali-Kali Direnovasi
Masjid Qiblatain sudah mengalami berkali-kali perombakan, dan renovasi besar-besaran pada masa pemerintah Raja Fadh, pada 1987.
Meski sudah banyak perombakan, ciri khas Masjid Qiblatain yang memiliki dua mihrab di dalamnya, yakni yang menghadap Baitul Maqdis dan Masjidil Haram, tidak hilang sama sekali. Terdapat penanda bekas kiblat arah Baitul Maqdis, yakni terdapat ornamen bertuliskan "Lailahaillallah Muhammadurrasulullah".
Kubah utama menandakan arah kiblat utama yang menghadap Masjidil Haram, sedangkan kubah kedua menghadap menunjukkan arah kiblat palsu yang dahulu menjadi arah para umat Muslim ketika mengerjakan salat.
Di antara kubah tersebut terdapat garis silang yang menandakan proses perpindahan arah kiblat. Sementara di bawahnya terdapat sebuah miniatur mihrab tua yang menyerupai ruang kubah batu di Yerusalem.
Masjid ini menjadi saksi ketika Rasulullah SAW mengganti kiblat salat ke arah Ka’bah di Makkah dari yang semula menghadap Masjid Al-Aqsha di Palestina. Banyak jamaah asing yang datang memanfaatkan untuk mengabadikan arah kiblat lama sebagai kenang-kenangan.
(Erha Aprili Ramadhoni)