Hari Raya Idul Adha tinggal menghitung hari. Umat Muslim sedang mempersiapkan berbagai hewan kurban untuk dipersembahkan kepada Allah SWT melalui ibadah kurban.
Sama seperti halnya Hari Raya Idul Fitri, Idul Adha juga merupakan hari raya bagi umat Muslim. Hal yang membedakan hadirnya hewan kurban.
Dikutip Okezone dari sebuah video di Channel Youtube Solusi Umat, Ustadz Abdul Somad menjelaskan, hukum kurban menurut beberapa ulama berbeda-beda.
"Menurut Mazhab Hanafi, kurban itu wajib," Ungkap Ustadz Abdul Somad.
Hal tersebut didapatkan dari dalil hadist, Abu Haurairah yang menyebutkan Rasulullah SAW bersabda, "Barangsiapa mempunyai kelonggaran (harta), namun ia tidak melaksanakan kurban, maka janganlah ia mendekati masjidku." (H.R. Ahmad, Ibnu Majah).
Ustadz Abdul Somad kembali menjelaskan, "Sedangkan Mazhab Imam Syafi'i, Maliki, Hambali, kurban tak wajib hanya sunah muakkad."
Dalilnya adalah dari hadits Riwayat Ibnu Abbas, Rasulullah SAW mengatakan, "Tiga perkara bagiku wajib, namun bagi kalian sunah, yaitu shalat witir, menyembelih kurban dan salat Idul Adha." (H.R. Ahmad dan Hakim).
Mau wajib atau sunah muakkad, dengan berkurban berarti kita telah melaksanakan perintah Allah. Dalam berkurban, ada beberapa pemahaman tentang tata cara pan proses pelaksanaan ibadah kurban yang perlu diperhatikan, agar ibadah tersebut sah dan diterima oleh Allah SWT.
Berikut telah Okezone rangkum beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam tata cara berkurban:
1. Jenis hewan yang dijadikan kurban
Hewan yang dapat dijadikan kurban tentu tidak boleh sembarangan. Hewan yang dapat dikurbankan adalah unta, sapi, kerbau, kambing atau domba. Di Indonesia sendiri, hewan yang paling sering dicari untuk kurban adalah sapi, kambing, dan domba. Untuk sapi, usia minimal yang boleh dikurbankan adalah dua tahun, sedangkan kambing atau domba minimal 2 tahun.
2. Memilih hewan kurban
“Rasulullah SAW pernah berdiri di tengah-tengah kami dan berkata, 'Ada empat cacat yang tidak dibolehkan pada hewan kurban: buta sebelah dan jelas sekali kebutaannya, sakit dan tampak jelas sakitnya, pincang dan tampak jelas pincangnya, sangat kurus sampai-sampai seolah tidak berdaging dan bersum-sum.'" (HR Tirmidzi)
Dari hadist di atas maka hewan kurban tidak boleh dalam kondisi bermata hanya sebelah atau buta, pincang, bertubuh kurus, dan memiliki penyakit yang parah. Diharapkan agar orang yang akan berkurban tidak memilih hewan yang memiliki kondisi tersebut.
3. Waktu pelaksanaan kurban
Pelaksanaan ibadah kurban dilakukan setelah selesai melaksanakan Salat Hari Raya Idul Adha. Jika tidak sedang melaksanakan Salat Idul Adha, maka dilakukan juga setelah Salat Idul Adha selesai. Waktu penyembelihan ini juga dapat dilakukan sampai matahari terbenam.
4. Proses penyembelihan
Bagi seseorang yang akan berkurban maka disunahkan baginya untuk tidak memotong rambut dan kukunya seperti dalam Hadits Riwayat Muslim,
“Jika masuk bulan Dzulhijah dan salah seorang dari kalian ingin menyembelih kurban, maka hendaklah ia tidak memotong sedikitpun dari rambut dan kukunya.” (HR. Muslim).
Selain itu, sebelum melakukan proses penyembelihan, maka penyembelih harus bersuci dan menyembelih dengan menghadap kiblat. Diusahakan orang yang berkurban juga mengikuti proses penyembelihan dengan menyembelih sendiri, namun jika tidak memungkinkan bisa melihat prosesi penyembelihan.
5. Membaca doa
“Dan janganlah kamu memakan binatang-binatang yang tidak disebut nama Allah ketika menyembelihnya.” (QS Al An’am : 121)
Selagi akan melakukan penyembelihan maka wajib untuk menyebut nama Allah. Untuk itu Rasulullah mengajarkan dengan cara mengucap basmallah dan bertakbir.
6. Menyembelih dengan cara yang baik dan benar
"Dari Saddadi Ibnu Aus, Rasulullah bersabda; 'Sesungguhnya Allah menetapkan supaya berbuat baik terhadap segala sesuatu. Apabila kamu membunuh, bunuhlah dengan baik. Apabila kamu hendak menyembelih, sembelihlah dengan baik dan hendaklah mempertajam pisaunya dan memberikan kesenangan terhadap binatang yang disembelih.'" (HR. Muslim).
Menyembelih hewan kurban tentu harus dengan cara yang baik dan benar. Hal ini dapat dilakukan dengan proses penyembelihan menggunakan pisau yang tajam, agar hewan tidak kesakitan dan terlalu lama mengalami sakit saat sekarat.
(Dyah Ratna Meta Novia)