Ikut membangun Masjid Istiqlal, Suparno yang akrab disapa Mbah Parno, kisah hidupnya memang patut dijadikan teladan. Saat muda ia jadi kuli bangunan Masjid Istiqlal. Ia begitu mencintai masjid tersebut hingga tak rela jauh darinya.
Rumahnya berlokasi di kawasan Kemayoran, Jakarta Pusat. Walau sudah memiliki tempat tinggal baru, yaitu rumah hadiah dari Kementerian Agama (Kemenag) yang diberikan sebagai apresiasi bakti Mbah Parno terhadap Masjid Istiqlal, namun beliau memilih tinggal di rumah lamanya.
Mbah Parno mengatakan, jika rumah yang diberikan Kemenag terlalu jauh, lokasinya berada di Parung Bogor, Jawa Barat. Selain itu di sana tidak dekat dengan masjid.
"Di sana jauh dari Masjid. Kalau di sini kan dekat, tinggal jalan kaki dari rumah," kata Mbah Parno saat ditemui Okezone di rumahnya, Kamis (8/8/2019).
Menurut Mbah Parno, salat itu paling penting dalam hidup dan tidak boleh ditinggalkan begitu saja. Meski bacaan surat belum lancar, tapi salat haruslah tetap ditunaikan.
"Saya juga belajar ngajinya ya gitu. Tapi minimal hafal Al Fatihah, itu sudah baik. Penting," katanya.
Usia Mbah Parno kini menginjak 91 tahun, lebih tua dari KH Maimoen Zubair. Dia mengakui, hidupnya hanya untuk beribadah dan tidak berharap lebih dan masih ingin terus beribadah.
"Dulu saya sering puasa dan salat sunah. Tapi sekarang sudah tua. Jadi sering tidak puasa (karena usia)," katanya.
Walau usianya sudah senja, tapi Mbah Moen tetap semangat dalam menjalani hidup. Menurutnya yang penting adalah salat.
Ketika ditanya ingin segera pergi ke Tanah Suci atau tidak, Mbah Parno hanya menjawab dengan jawaban sederhana. Menurutnya, jangan terlalu berharap dan urusan dunia akhirat hanya dipasrahkan pada Allah.
"Ya saya tidak terlalu berharap (naik haji atau umrah). Tapi kalau ada yang ajak ya, Alhamdulillah karena semua itu ketentuan Allah. Misalnya ada yang mampu untuk pergi haji, tapi Allah tidak mengizinkan, ya gimana? Seperti saya diberi rumah pun tidak berharap. Itu semua dari Allah," ujarnya.
Lalu bagaimana kisah unik Mbah Parno dengan seorang jenderal?
Anak bungsu Mbah Parno, Hardi Wantoro menceritakan hal menarik tentang Bapaknya. Saking tidak mau ketinggalan salat, Mbah Parno sempat memarahi seorang jenderal, ketika sedang mengantarkan surat kenegaraan.
"Waktu itu Bapak pernah memarahi seorang jenderal. Bapak marah kepada sang jenderal karena beliau menyuruh bapak untuk mengantarkan surat saat waktu salat sudah tiba. Bapak jauh lebih memilih dulu salat dibanding mengantar surat sang jenderal," ujar Hardi.
Kata Hardi, hingga ini salat memang hal yang paling utama untuk Bapaknya. Mbah Parno selalu mendahulukan salat, dibanding urusan lainnya.
(Dyah Ratna Meta Novia)