Zainab binti Khuzaimah merupakan istri Rasulullah SAW yang memiliki dua gelar. Ia disebut Ummul Mukminin dan Ummul Masakin (ibu kaum miskin).
Istri Rasulullah SAW yang satu ini memiliki sifat pemurah, cinta dan kasih sayang yang besar. Tak hanya kepada suaminya Rasulullah, ia juga mencintai kaum miskin. Ia begitu peduli dengan kehidupan orang yang tak memiliki apa-apa.
Zainab binti Khuzaimah ibn Harits ibn Abdullah ibn Amr ibn Abdi Manaf ibn Hilal ibn ‘Amir ibn Sha ‘shaah al-Hilaliyah merupakan putri Hindun binti ‘Auf ibn Harits ibn Humathah al-Himariyyah.
Tidak lama setelah masuknya Sayyidah Hafshah Binti Umar r.a. ke tengah keluarga Rasulullah, masuklah Ummul Mukminun ke empat Sayyidah Zainab binti Khuzaimah, istri yang mulia bagi Rasulullah. Ia merupakan perempuan yang cantik, pengasih, dan penyayang di antara para istri Rasulullah.
Mayoritas sejarawan sepakat menggambarkan Zainab sebagai perempuan yang baik, pemurah, dan menyayangi kaum miskin. Setiap kali namanya disebutkan dalam sebuah kitab, pasti disertai dengan julukan Ummul Masakin.
Sedikit dari kisah yang dituturkan oleh Ibnu Hisyam dalam sirahnya adalah bahwa Zainab disebut dengan Ummul Masakin karena sifat kasih sayangnya dan kesantunannya terhadap kaum papa.
Dalam Al-Istiab dan Al-Ishabab juga disebutkan, ”Zainab diberi nama Ummul Masakin karena selalu memberi makan dan bersedekah kepada mereka.”
Demikian pula sumber yang lain. Adapun Fadhilat asy-Syaikh Muhammad al-Madani menuturkan, ”Zainab binti Jahasy r.a. adalah orang yang paling mulia di antara istri Rasulullah, paling budiman kepada anak-anak yatim dan kaum miskin. Karena itu, ia terkenal dengan julukan Ummul Masakin.”
Pendapat yang kuat menyatakan bahwa Zainab wafat pada usia tiga puluh tahun sebagimana disebutkan oleh al-Waqidi dan dikutip oleh Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah. Dalam hal ini, penulis tidak mendapatkan data tentang rumah tangga Zainab (bersama Rasulullah) yang cukup singkat. Karena itu, cukuplah kita simpulkan bahwa ia hidup bahagia karena mendapat kehormatan menjadi istri Rasulullah dan menjadi Ummul Mukminin.
Ia abaikan kesibukan-kesibukan lain untuk mencurahkan perhatian kepada kaum miskin disamping bersikap kanaah terhadap penghargan dari Nabi Shallahu ‘Alaihi wa Sallam dan kaum mukminin sehingga tidak tersibukkan oleh sikap tamak maupun rasa cemburu.
Zainab berpulang kepada Allah yang Mahakuasa dengan damai sebagaimana telah menjalani kehidupan dalam masa yang singkat ini dengan damai pula. Ia cukup merasa terhormat dan bangga karena Rasulullah sendiri yang mensalatinya lalu memakakannya di Baqi’. Jadi Zainab adalah orang pertama dari Ummuhatul Mukminin yang dimakamkan di tanah ini.
Adapun tentang siapakah suami Zainab sebelum Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam ada banyak versi yang meriwayatkan. Dalam kitab Uyyun al-Atsar, dikutip dari ibnu ‘Abd al-Barr dan Ibnu Sayyid an-Nas serta ath-Thabari dalam As-Samth ats-Tsamin lalu dalam Al-Ishabah dan Al-Istibah dan Al-Isti ab, dituturkan bahwa Zainab adalah istri Thufail ibn Harits yang kemudian diceraikan lalu dinikahi oleh Rasulullah.
Sementara itu, dalam As-Sirah an-Naabawiyyah karya Abdul Mutthalib. Sebelum itu, ia adalah istri dari jahmah ibn Amr al-Harits al-Hilali, saudara sepupunya sendiri. Adapun dalam riwayat Ibnu Abd al-Barr dan az-Zuhri dan ibnu hajar dalam Al-Ishabah, dikatakan bahwa zainab adalah istri Abdullah ibn Jahsy yang gugur dalam peperangan yang gugur dalam perang Uhud. Selanjutnya Zainab dinikahi oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Riwayat dari al-Kalbi mengatakan bahwa Zainab adalah istri Thufail ibn Harits yang kemudian diceraikan. Ia dinikahi oleh saudara Thufail sendiri yang kemudian gugur dalam perang badar. Setelah itu Zainab dipinang oleh Rasulullah Shallahu ‘Alaihi wa Sallam.
Dikutip dari buku Biografi 39 Tokoh Wanita Pengukir Sejarah Islam, riwayat yang disepakati oleh sebagian besar sumber adalah bahwa Rasulullah menikahi Zainab pada bulan Ramadhan tahun 3H. Setelah itu, Zainab tinggal bersama beliau selama beberapa bulan kemudian wafat.
(Dyah Ratna Meta Novia)