Ummul Fadhal merupakan seorang mukminah yang bertakwa, ahli tobat, dan rajin qiyamulail. Ia dinikahi oleh Abbas paman Rasulullah SAW.
Ummul Fadhal yang merupakan istri paman Rasulullah SAW tersebut memberikan sejumlah keturunan yang saleh antara lain Al-Fadhl, Abdullah al-faqih, Ubaidillah al-Faqih, Ma'bad, Qatsam, dan Abdurrahman.
Ummul Fadhal telah memeluk Islam sebelum peristiwa hijrah. Konon ia adalah wanita pertama yang masuk Islam sesudah Ummul Mukminin Khadijah r.a.
Ia menjalani hidup dalam Islam dengan baik, mempertahankannya dengan penuh kesabaran, dan rela menanggung siksaan yang pahit.
Abdullah, putranya, pernah menceritakan, "Aku dan ibuku termasuk wanita dan anak-anak yang lemah. Ibuku adalah junjungan kaum wanita. Rasulullah acapkali berkunjung dan singgah di rumah Ummul Fadhal beberapa saat."
Hal yang membuat Ummul Fadhal berbeda dengan para perempuan lainnya adalah keberanian yang ia miliki dalam beriman dan membela dakwah Rasulullah SAW. Ia merupakan orang yang menghabisi dan membunuh Abu Lahab, musuh Allah dan Rasul-nya.
Ibnu Ishaq meriwayatkan dari Ikrimah. Ia menceritakan bahwa Abu Rafi', budak Rasulullah menceritakan, "Aku adalah budak Abbas. Ketika lslam datang, Abbas masuk Islam secara diam-diam, begitu juga dengan Ummu Fadhal dan aku. Abbas merasa tidak kuasa menghindari ajakan kaumnya ketika mereka mengajaknya untuk ikut bersama rombongan pasukan Quraisy menghadapi kaum muslimin dalam Perang Badar. Karena itu, ia tidak mampu untuk menolak seruan itu ataupun mengabaikannya."
Adapun Abu Lahab, ia tidak ikut pergi dalam Perang Badar dan ia menunjuk al-'Ash ibn Hisyam ibn Mughirah untuk menggantikan dirinya. Demikianlah kebiasaan mereka: jika ada seseorang yang tidak pergi, ia akan mengirimkan seseorang sebagai penggantinya.
Menurut cerita Abu Rafi', saat Abu Jahal sedang duduk, orang-orang berteriak: 'Abu Sufyan ibn Hârits telah datang.'
Abu Lahab berkata: 'Ke marilah, engkau pasti membawa berita!'
Abu Sufyan duduk di dekat Abu Lahab sementara orang-orang berdiri di selilingnya.
Abu Lahab berkata: 'Wahai saudaraku, ceritakanlah apa yang terjadi dengan kaum kita!'
Abu Sufyan mengatakan: 'Demi Allah, begitu bertemu dengan kaum muslimin, kami seakan memberikan pundak-pundak kami kepada mereka. Mereka bunuh kami semaunya dan menawan kami dengan bebas. Namun, demi Allah, kami tidak menyalahkan pasukan kami atas kejadian itu. Pasalnya, ketika itu kami melihat banyak laki-laki berpakaian putih yang menunggang kuda belang di antara manusia dan bumi. Demi Allah, tidak ada sesuatu pun yang bisa menghadang kuda itu'.
Abu Rafi' mengatakan, "Aku mengangkat tali pahat lalu kukatakan: Demi Allah, itu adalah para malaikat.' Seketika itu Abu Lahab mengangat tangannya dan menampar wajahku hingga bengkak kemudian membantingku ke tanah. Ia duduk di atas tubuhku sambil menghajarku sementara aku adalah seorang laki-laki yang lemah.
Lalu Ummul Fadhal bangkit menuju sebatang kayu. Ia ambil kayu itu dan memukulkannya ke kepala Abu Lahab hingga terluka. Ia berkata: 'Engkau anggap ia lemah karena tuannya tidak ada?' Abu Lahab lalu berdiri dengan lemah dan gontai. Demi Allah, hanya tujuh malam setelah itu, Allah menurunkan penyakit bisul yang membunuh Abu Lahab.