Pemandangan memilukan ini membuat Ibnu al-Wardi geram. Ia geram karena dimana mana orang berbicara ketakutan, penyakit, kesedihan, dan keputusasaan. Akhirnya Ibnu al-Wardi menantang Tha’un dalam dua baitnya:
Aku tidak takut padamu, thaun (wabah),
Tidak seperti selainku
Bagiku, hasilnya adalah dua kebaikan
Jika aku mati, aku beristirahat dari musuhku (wabah)
Jika aku hidup, berarti telinga dan mataku sudah sembuh (hilangnya wabah)
Belum genap dua hari, wabah tersebut menjangkiti dirinya. Belum genap hitungan 48 jam pula, wabah itu sudah merenggut nyawanya. Ibnu al-Wardi meninggal pada tahun 749 H. Tahun yang sama saat ia tiba tiba memasukkan pembahasan wabah dalam kitab târikh-nya.
"Pada bulan Rajab, wabah sampai ke tanah Aleppo, Syria. Semoga Allah menjaga kita dari wabah tersebut. Wabah ini, menurut berita yang sampai padaku, telah menjangkit selama 15 tahun. Dan aku membuat risalah kecil untuk mendokumentasikannya, bertajuk al-Nabâ' an al-Wabâ."
(Dyah Ratna Meta Novia)