LEBARAN tahun ini memang terasa sangat berbeda dengan tahun-tahun yang kemarin. Pasalnya, kita semua sekarang sedang dirundung musibah, yang bukan saja mengguncang ekonomi dunia, tetapi juga mengubah pola perilaku kita dalam berinteraksi sosial dan dalam melaksanakan kegiatan ritual keagamaan.
Jika tahun-tahun kemarin, kita bisa melaksanakan sholat Tarawih berjamaah ke masjid, takbir keliling, buka bersama dan kegiatan sosial-keagamaan yang melibatkan kerumunan massa, maka tahun ini rasanya kita harus bersabar untuk sementara, mengurangi kegiatan-kegiatan yang banyak melibatkan kerumunan massa.
Kita juga harus rela untuk tidak mudik sementara, bukan karena kita tidak cinta keluarga, tapi justru karena kita cinta kepada mereka, dan karena kita taat kepada aturan agama dan pemerintah, demi memutus dan mencegah penyebaran virus COVID-19.
Namun demikian, satu hal yang harus tetap kita syukuri bersama adalah bahwa kita telah dapat menyelesaikan ibadah puasa Ramadan selama sebulan penuh. Bahkan kita masih diberikan kesehatan prima dan bisa berkumpul dengan anak-anak dan keluarga. Teriring harapan dan doa semoga Allah Swt berkenan meridhoi kita semua, menerima semua amal ibadah kita, dan mengampuni dosa-dosa dan kesalahan kita.
Semoga ibadah puasa yang kita kerjakan selama bulan Ramadhan mampu memberikan nilai transformasi spiritual dan sosial.
(Baca Juga: Ketika Kening Bertakwa, Lidah Memfitnah)
Teguhkan nilai-nilai religiusitas dan solidaritas sosial di tengah wabah virus Corona ini. Mari kita terus menjaga istiqamah dalam ibadah dan berdoa kepada Allah SWT agar tetap diberikan kekuatan dan kesabaran menghadapi musibah ini. Berusaha menjadi lebih arif dan bijaksana, santun dalam bertutur kata dan berperilaku. Tidak mudah emosional dan tidak suka menebar ujaran kebencian kepada siapapun.
Itulah di antara ciri-ciri orang yang berhasil puasanya, yang dalam bahasa Alquran diungkapkan dengan frasa la `allakum tataqûn (Q.S. al-Baqarah [2]: 183). Oleh sebab itu, jangan dengan dalih demokrasi dan sikap kritis, lalu kita tak dapat mengendalikan diri, sehingga suka menebar berita dan ujaran kebencian di dunia medsos.
Berikan saran dan kritik yang konstruktif kepada pemerintah untuk menyelesaikan problem bangsa ini. Sampaikan dengan bahasa yang santun dan bijak. Namun di sisi lain, berikan apresiasi dan dukungan kepada pemerintah, yang telah bekerja keras menangani wabah COVID-19. Semoga wabah ini segera berlalu dan situasi bisa normal kembali.
(Baca Juga : 4 Nabi yang Dipercayai Masih Hidup Sampai saat Ini)
Ambil hikmah dari musibah ini. Sabar dan tabah, serta produktif bekerja dan beribadah sesuai dengan kemampuan masing-masing. Biasakan pola hidup yang disiplin, cuci tangan, physical distancing, memakai masker jika ke luar rumah. Sebab semua itu bagian dari tuntunan agama dan cara menyempurnakan ikhtiar.
Meski aktivitas dan kegiatan memang menjadi lebih terbatas, karena adanya pandemi COVID-19, hal ini harus menjadi perhatian kita semua sebagai warga masyarakat yang baik. Tidak boleh ceroboh dan apalagi ‘sombong’ yang dibungkus dengan baju tawakal kepada Allah SWT.