Kisah Rahmi, Penyuluh Agama yang Tabah Urus Jenazah ODP Covid-19

Rizka Diputra, Jurnalis
Minggu 07 Juni 2020 11:05 WIB
Rahmi Kusbandiyah Sya'ban, penyuluh agama di Mataram, NTB yang bertugas mengurus jenazah ODP Covid-19 (Foto: Kemenag.go.id)
Share :

RAHMI Kusbandiah Sya’ban dengan sabar melakoni pekerjaannya sebagai sebagai penyuluh agama Islam di Kota Mataram, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Ya, nama Rahmi menyita perhatian netizen manakala fotonya sedang mengurus jenazah di panti jompo Mataram di tengah pandemi Covid-19 beredar di media sosial.

Kasie Pengembangan Penyuluh Agama Islam Kemenag, Amirullah bergerak mencari informasi mengenai Rahmi. Menurut informasi yang diperoleh, Rahmi merupakan Ketua Kelompok Kerja Penyuluh (Pokjaluh) Provinsi NTB.

Melalui sambungan telepon, Rahmi menceritakan pengalamannya saat harus memandikan jenazah pasien Orang Dalam Pengawasan (ODP) kasus Corona Virus Disease 2019 (Covid-19).

“Pertama yang kami rasakan, ketakutan dan kekhawatiran itu pasti ada. Apalagi dalam suasana yang seperti ini,” kata Rahmi, melansir dari website Kemenag.

Baca juga: Youtuber Mualaf Asal Korea Cover Lagu 'Aisyah Istri Rasulullah', Bikin Adem

Akan tetapi, perlahan rasa takut itu pupus oleh kesadaran akan kewajiban yang lebih besar sebagai seorang muslim, terlebih dia menyandang status sebagai Penyuluh Agama Islam Fungsional (PAIF) yang tentunya bertugas melayani masyarakat.

"Kewajiban kita sebagai muslim yang hidup kepada saudara kita yang meninggal kan memandikan, mengkafani, menyolatkan, dan menguburkan,” tuturnya.

“Nah kalau kita yang bisa saja tidak berani melakukannya, lalu siapa yang akan melakukannya? Berangkat dari sebuah kewajiban dan hati nurani, ditambah lagi kita harus ikhtiar dengan melengkapi diri dengan alat pelindung diri (APD), Bismillah kita lakukan,” kata Rahmi yang telah menjadi ASN Kemenag sejak tahun 2000 silam itu.

Selama masa pandemi Covid-19, Rahmi bersama 4 penyuluh agama honorer Kota Mataram telah menyiapkan diri untuk melayani masyarakat, salah satunya memberikan kesediaan untuk mengurus jenazah pasien yang terpapar Covid-19.

“Terutama kami mengurus pasien yang ODP. Karena kalau jenazah berstatus Pasien Dalam Pengawasan, sesuai protokol diurus langsung oleh pihak rumah sakit,” ujar Rahmi.

Baca juga: Erdogan Ingin Kembalikan Hagia Sophia sebagai Masjid?

Dia menjelaskan, peran penyuluh agama sebagai pendamping masyarakat amat penting di tengah pandemi Covid-19 ini. Rahmi pun sadar kehadirannya di tengah masyarakat akan meringankan beban psikologis masyarakat untuk menghadapi pandemi.

“Kebetulan kita di Kota Mataram dan NTB secara umum kita mulai sangat-sangat waspada di bulan Maret. Saya sendiri memberikan penyuluhan melalui radio saat pandemi mulai merebak, kita sudah antisipasi sejak bulan Maret. Pertengahan Maret sudah mulai agak tegang, dan sudah ada pasien positif di NTB. Itu masyarakat sudah mulai ketakutan, dan mulai paranoid lah,” kata dia.

Satu Orang dalam Keluarga Harus Berani Urus Jenazah

Pekerjaan mengurus jenazah telah digeluti Rahmi sejak 9 tahun silam. Rahmi mengaku memiliki program untuk memberikan bimbingan penyuluhan terkait dengan pengurusan jenazah.

"Saya ingin satu keluarga itu, minimal satu orang yang bisa dan berani mengurus jenazah. Karena bisa saja ndak cukup kalau ndak berani," ujar Rahmi.

Berbeda dengan kebanyakan penyuluh yang menjadikan majelis taklim sebagai kelompok binaan, Rahmi melebarkan sasaran dakwahnya kepada komunitas-komunitas umum dalam masyarakat.

“Saya mengajarkan pengurusan jenazah ini kepada para guru di PGRI, komunitas RT, RW, kelurahan, dan juga remaja,” ungkap Rahmi.

Rahmi menuturkan, program penyuluhannya itu berangkat dari sebuah keprihatinan karena masih terbatasnya kemampuan dan keberanian masyarakat untuk melakukan serangkaian pengurusan jenazah.

“Ini berangkat dari sebuah keprihatinan, saya sering datang melayat sampai menjelang pemakaman kok belum dimandikan,” ucapnya.

“Ada beberapa kasus yang saya lihat, terutama di komplek-komplek perumahan itu sampai sore belum dimandikan. Saya tanya kenapa belum dimandikan? Yang petugas memandikannya belum datang. Jadi yang meninggal itu di Mataram, sementara memandikannya dari orang luar,” kisahnya lagi.

Sejak saat itulah, dirinya mulai memberanikan diri untuk mengurus jenazah yang kemudian dilanjutkan dengan memberikan penyuluhan kepada masyarakat terkait hal tersebut.

“Itu program saya yang saya sosialisasikan terus menerus kepada masyarakat, alhamdulillah mendapatkan respon positif. Kami ingin, di setiap rumah minimal ada satu orang yang bisa mengurus jenazah,” tutupnya.

(Rizka Diputra)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya