Pandemi, Kejujuran, dan Relasi Sosial

, Jurnalis
Jum'at 12 Juni 2020 10:06 WIB
Antisipasi persebaran virus corona (covid-19). (Foto: Heru Haryono/Okezone)
Share :

Kejujuran Juga Menyehatkan

Erich Fromm menjelaskan dalam bukunya 'Escape from Freedom' bahwa alam kehidupan ini ada orang memilih terasing. Orang yang terasing adalah orang yang melarikan diri dari kebebasan.

Salah satu sebab orang menjadi terasing karena dia berdusta atau tidak jujur. Sebab ternyata orang berdusta menyebabkan dampak fisiologis. Hati menjadi tidak tenang. Perasaan selalu gelisah. Detak jantung selalu berdebar-debar. Keringat dingin keluar. Demikian hasil kajian yang disampaikan Taufik Pasiak pakar otak dalam bukunya Unlimited Potency of Brain.

Dampak negatif dari dusta adalah gelisah. Sebabnya selalu khawatir kalau kebohongannya terbongkar. Kalau beban dustanya semakin berat, maka bisa semakin paranoid. Itulah mengapa orang yang berdusta akhirnya mengorbankan kebebasannya sendiri.

Kejujuran dan Relasi Sosial

Dalam Sunan Tirmidzi Nomor 2433: Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam bersabda: "Maukah kalian aku beri tahu yang lebih utama daripada derajat puasa, sholat, dan sedekah?" Mereka menjawab: "Iya." Beliau bersabda: "Yaitu interaksi sosial yang baik, karena interaksi sosial yang buruk itu memangkas (agama)."

Hadis ini menjelaskan bahwa ada amalan yang lebih baik dari sholat, puasa, dan sedekah. Padahal sholat dan puasa selama ini dianggap sebagai ibadah yang utama. Masuk dalam rukun iman. Namun ternyata Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengatakan yang lebih utama dari ibadah tersebut yakni interaksi sosial yang baik.

Interaksi sosial yang baik salah satu dasarnya adalah kejujuran. Tanpa kejujuran interaksi sosial menjadi semu. Kepura-puraan belaka. Hal tersebut tentu menyakitkan. Pasti menyebalkan.

Menjaga relasi sosial pasti menjaga kepercayaan, antara satu individu dengan individu lainnya. Antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Antara satu suku dengan suku lainnya. Menjadi bangsa adalah menjaga kejujuran antara rakyat dan pimpinan. Menjadi Indonesia berarti menjaga kejujuran sesama penduduk Indonesia.

Bangsa yang besar adalah bangsa yang paling menghargai kejujuran. Bangsa yang sakit adalah bangsa yang menghargai kedustaan. Wallahu'alam bishawab.

Oleh Hatib Rahmawan

Sekretaris Bidang Pendidikan dan Kaderisasi Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah, Dosen Prodi Ilmu Hadis Fakultas Agama Islam Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta.

(Hantoro)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya