Selanjutnya ialah dilihat dari pandangan Nabi Adam di mana godaan pria terbesar bertumpu pada harta, tahta dan wanita. Sebagai manusia biasa, tentunya Nabi Adam tergoda akan bujukan salah satunya, yakni wanita yang tak lain ialah istrinya sendiri saat dirinya diajak untuk memakan buah khuldi.
Murkanya Allah terhadap Nabi Adam dan Siti Hawa memunculkan rasa penyesalan yang begitu dalam di antara keduanya. Dari sinilah adanya taubat nasuha. Nabi Adam bertaubat kepada Allah agar diampuni dosa-dosanya.
Begitupun Hawa, yang keduanya ingin segera dipertemukan kembali ketika diturunkan di bumi dalam keadaan terpisah. Adapun doa yang dipanjatkan oleh Nabi Adam kala bertaubat yakni
“Rabbanaa zhalamnaa anfunsanaa wa illam taghfirlanaa watarhamnaa lana kunannaa minal khaasirin,”
Artinya: “Ya Tuhan kami, kami telah menganiaya diri kami sediri, dan jika Engkau tidak menganmpuni kami dan memberi rahmat kepada kami, niscaya pastilah kami termasuk orang-orang yang merugi,”.
Allah Ta'ala kemudian mengangkat derajat Nabi Adam. Dengan begitu, yang dapat dipetik dari sini ialah janganlah lebih dulu mengeluh dan menyalahkan suatu kondisi, terutama saat tibanya ujian Allah dalam kehidupan kita. Sebab, bukan mustahil bahwa saat itulah Allah hendak mengangkat derajat kita.
(Rizka Diputra)