IBADAH yang sangat dianjurkan pada Hari Idul Adha adalah menyembelih hewan kurban. Ibadah yang sudah ada sejak zaman Nabi Adam di mana kedua anaknya Habil dan Qabil diperintahkan untuk memberikan kurban terbaik kepada Allah SWT dari aktivitasnya bercocok tanam dan beternak.
Kemudian berlanjut pada masa Nabi Ibrahim yang diperintahkan oleh Allah menyembelih anaknya Ismail. Ibadah itu kemudian dijadikan sebagai hukum syariat dalam Islam oleh Nabi Muhammad SAW.
Baca juga: Dear Milenial Muslim, Ini 4 Keutamaan Dahsyat Bersedekah serta Dalilnya
Apa ensensi dari berkurban?
“Pada masa Nabi Muhammad, kurban ditetapkan oleh Rasulullah SAW sebagai bagian dari syariah Islam, syi’ar dan ibadah kepada Allah SWT sebagai rasa syukur atas nikmat kehidupan,” kata Ketua Pelaksana Harian Yayasan Pendidikan Al-Aliim, Ustadz Mohammad Teguh Budiman kepada Okezone, Selasa (21/7/2020).
“Disyari’atkannya qurban sebagai simbol pengorbanan hamba kepada Allah SWT, bentuk ketaatan kepada-Nya dan rasa syukur atas nikmat kehidupan yang diberikan Allah SWT kepada hamba-Nya,” lanjut pria yang biasa disapa Kang Teguh.
Dalam Surah Al Kautsar ayat 1-3, Allah berfirman:
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak. Maka dirikanlah sholat karena Tuhanmu dan berkurbanlah. Sesungguhnya orang-orang yang membenci kamu Dialah yang terputus.”
Teguh menjelaskan, dengan adanya perintah berkurban, maka muslim harus menyadari terdapat hubungan antara rasa bersyukur atas nikmat kehidupan dengan berkurban atau menyembelih hewan kurban yang akan dijelaskan sebagai berikut.
1. Menjalin hubungan harmonis sesama muslim
Ketika berkurban, tentunya kita tidak melaksanakan hal tersebut sendirian, melainkan bersama muslim lainnya. Dengan hal tersebut, ukhuwah juga akan semakin erat sehingga tali persaudaraan antar sesama muslim tidak goyah.
“Penyembelihan hewan kurban merupakan sarana menjalin hubungan harmonis dan hubungan yang lebih bermakna solidaritas terhadap kerabat, tetangga, tamu, dan saudara sesama muslim. Berkurban sebagai ungkapan kebahagiaan dan rasa syukur atas nikmat Allah SWT. Sehingga kebahagiaan itu dapat dirasakan pula oleh orang lain.” ujar ustadz alumnus Takhassus Kulliatil Muballighin Assyakur Angkatan XXIX.