Setelah memerintahkan Asma binti Umais mengambil bejana yang berisi air, Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam mengambil segenggam air tersebut lalu memercikkannya ke atas kepala Fatimah, mengambil lagi dan mengusapkan ke tangan, leher, serta badannya. Kemudian Rasulullah berdoa lagi.
"Ya Allah, Fatimah dariku, dan aku dari Fatimah, sebagaimana Engkau jauhkan kotoran dariku dan menyucikanku maka jauhkan kotoran darinya dan sucikan ia."
Baca juga: Yuk Tunaikan Sholat Fajar, 4 Keutamaan Besar Menanti
Usai itu Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menyuruh Fatimah membasuh mukanya dengan air tersebut, berkumur, dan meminumnya. Kemudian Ali dipanggil, hal yang sama dilakukan. Rasulullah memungkasi dengan doa.
"Semoga Allah menyatukan hati kalian, memberi kalian kasih sayang, keturunan yang diberkahi, dan memudahkan segala urusan kalian."
Singkatnya, setelah sah menikah, Fatimah dan Ali hidup serumah. Fatimah yang menjadi putri tercinta, berat bagi Rasulullah untuk berpisah.
Fatimah merupakan penawar rindu saat hari-hari Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam teringat istri terkasih, Khadijah Kubra. Hingga kondisi ini diketahui salah seorang sahabat Haritsah yang merelakan rumahnya ditempati putri beliau dan suaminya.
Baca juga: Umar bin Khattab, Pemimpin Adil Penakluk Romawi dan Persia
"Demi Allah, aku lebih senang hartaku Engkau miliki wahai Rasulullah daripada Engkau menyisakannya untukku."
"Semoga Allah memberimu pahala."
Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wa sallam menerima tawaran Haritsah dan mendoakannya.
Jadilah rumah Haritsah ditempati Fatimah dan Ali, sehingga tak lagi jauh jarak antara Rasulullah dan putrinya.
Wallahu a'lam.
(Hantoro)