ANAK adalah anugerah dan titipan Allah kepada setiap orangtua. Karenanya, orangtua harus merawat dan mendidik anak dengan baik agar ia tumbuh menjadi hamba yang taat dan bertakwa kepada Allah. Jika salah mendidik, maka itu termasuk mengingkari amanah Allah. Allah akan meminta pertanggung jawaban kelak.
Zaman jahiliyah, memiliki anak perempuan merupakan aib bagi keluarganya. Anak perempuan seakan sah dibunuh atau dikubur hidup-hidup.
Peristiwa ini tertulis dalam Alquran Surat An-Nahl ayat 58;
وإِذَا بُشِّرَ أَحَدُهُم بِٱلْأُنثَىٰ ظَلَّ وَجْهُهُۥ مُسْوَدًّا وَهُوَ كَظِيمٌ
Artinya: Dan apabila seseorang dari mereka diberi kabar dengan (kelahiran) anak perempuan, hitamlah (merah padamlah) mukanya, dan dia sangat marah (Q.S. An Nahl: 58)
Baca juga: Sunah Rasulullah Terbukti Ilmiah, Makan-Minum Sambil Duduk Ternyata Lebih Sehat
Budaya itu hilang setelah Nabi Muhammad SAW diutus oleh Allah ke muka bumi untuk menyebarkan Islam. Rasulullah mengangkat derajat kaum perempuan, menjadikannya sebagai makhluk istimewa.
Dalam artikel ditulis Devi Yuliana, Mahasantri Ma’had Aly Hasyim Asy’ari di laman Tebuireng.Online, dijelaskan bahwa memiliki anak perempuan merupakan suatu anugerah serta tanggung jawab yang besar pula.
Bagaimana tidak? Ketika masih kecil hingga remaja ia menjadi tanggung jawab orang tuanya dan ketika ia telah menikah ia menjadi tanggung jawab suaminya.
Dalam kitab Shohih Muslim, tulis Devi Yulianan, terdapat 3 hadist yang mengungkapkan tentang keutamaan merawat serta mendidik anak perempuan dalam bab keutamaan berbuat baik terhadap anak perempuan :
أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، قَالَتْ: جَاءَتْنِي امْرَأَةٌ، وَمَعَهَا ابْنَتَانِ لَهَا، فَسَأَلَتْنِي فَلَمْ تَجِدْ عِنْدِي شَيْئًا غَيْرَ تَمْرَةٍ وَاحِدَةٍ، فَأَعْطَيْتُهَا إِيَّاهَا، فَأَخَذَتْهَا فَقَسَمَتْهَا بَيْنَ ابْنَتَيْهَا، وَلَمْ تَأْكُلْ مِنْهَا شَيْئًا، ثُمَّ قَامَتْ فَخَرَجَتْ وَابْنَتَاهَا، فَدَخَلَ عَلَيَّ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَحَدَّثْتُهُ حَدِيثَهَا، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنِ ابْتُلِيَ مِنَ الْبَنَاتِ بِشَيْءٍ، فَأَحْسَنَ إِلَيْهِنَّ كُنَّ لَهُ سِتْرًا مِنَ النَّارِ»
Artinya : Bahwa ‘Aisyah istri Nabi SAW berkata “Ada seorang wanita yang datang menemuiku dengan membawa dua anak perempuannya. Dia meminta-minta kepadaku, namun aku tidak mempunyai apapun kecuali satu buah kurma. Lalu aku berikan sebuah kurma tersebut untuknya. Wanita itu menerima kurma tersebut dan membaginya menjadi dua untuk diberikan kepada kedua anaknya, sementara dia sendiri tidak ikut memakannya. Kemudian wanita itu bangkit dan keluar bersama anaknya. Setelah itu Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam datang dan aku ceritakan peristiwa tadi kepada beliau, maka Nabi shallallhu ‘alaii wa sallam bersabda, “Barangsiapa yang diuji dengan anak-anak perempuan, kemudian dia berbuat baik kepada mereka, maka anak-anak perempuan tersebut akan menjadi penghalang dari siksa api neraka” (H.R. Muslim 2629)