Share

Hari Anak Nasional 2022, Ketahui 5 Cara Mendidik Anak secara Islami

Wilda Fajriah, Jurnalis · Jum'at 22 Juli 2022 08:54 WIB
https: img.okezone.com content 2022 07 22 616 2634181 hari-anak-nasional-2022-ketahui-5-cara-mendidik-anak-secara-islami-nHxJ9FN5OV.jpg Ilustrasi cara mendidik anak secara Islami. (Foto: Rawpixel/Freepik)

HARI Anak Nasional 2022 segera diperingati publik Tanah Air pada Sabtu, 23 Juli. HAN 2022 mengusung tema 'Anak Terlindungi, Indonesia Maju'. Ini dipilih sebagai momentum penggugah kepedulian dan partisipasi bangsa dalam menjamin pemenuhan hak anak, apalagi di tengah pandemi covid-19 yang masih dirasakan dampaknya.

Terkait Hari Anak Nasional, agama Islam telah jauh sebelumnya memberi panduan tentang mendidik anak secara Islami. Ini sebagaimana diajarkan dalam firman Allah Subhanahu wa ta'ala di kitab suci Alquran, kemudian hadis serta sunah Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam.

Baca juga: Baca Surat Yasin Lengkap di Alquran Digital Okezone: Teks Arab, Latin, 83 Ayat 

Dijelaskan bahwa anak merupakan karunia dari Allah Subhanahu wa ta'ala. Anak adalah titipan Allah Ta'ala yang kelak akan hidup mandiri dan lepas dari orangtuanya. Maka itu, anak harus dibekali keimanan yang kuat serta aturan yang tegas dalam menjalani kehidupan.

Alquran dan sunah harus dijadikan rujukan oleh kaum Muslimin dalam menerapkan pendidikan kepada anak-anaknya. Islam sebagai agama rahmatan lil ‘alalmiin mempunyai metode dan cara yang spesifik dalam mendidik si buah hati. Caranya tentu disesuaikan dengan tingkatan usia dan kematangan berpikir anak tersebut.

Info grafis sunah-sunah di hari Jumat. (Foto: Okezone)

1. Pendidikan kasih sayang dan nasihat

Dihimpun dari laman Kementerian Agama RI, pendidikan yang pertama diberikan kepada anak adalah kasih sayang dan nasihat. Kasih sayang mempunyai pengaruh positif terhadap perkembangan serta pertumbuhan anak, antara lain dapat meningkatkan kerja otak, menimbulkan semangat, adanya kedekatan psikis antara orangtua dan anak, serta membuat anak lebih terbuka dan percaya diri.

Kemudian pendidikan kasih sayang dan nasihat sebagaimana terdapat dalam Alquran Surat Luqman Ayat 11, 17, dan 18. Pada ayat 11 dijelaskan bagaimana Luqman berlaku lemah lembut dalam menasihati anaknya dengan menggunakan kata, "Wahai anakku…"

Baca juga: Jumat Berkah Baca Surat Al Kahfi: Lengkap Teks Arab, Latin, 110 Ayat, Buka Alquran Digital Okezone 

Begitupun pada ayat 17 dan 18, Luqman mendidik anaknya dengan penuh bijaksana, tanpa kekerasan, dan tidak terkesan menakutkan. Pendidikan dengan kasih sayang serta nasihat ini sesuai hadis Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Muslim:

"Dari Umar bin Abu Salamah radhiyallahu anhu berkata: 'Ketika masih kecil, aku pernah berada di bawah pengawasan Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam, dan tanganku bergerak mengulur ke arah makanan yang ada dalam piring. Maka Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam berkata kepadaku, 'Wahai anak, sebutkanlah nama Allah, makanlah dengan tangan kananmu'."

Dengarkan Murrotal Al-Qur'an di Okezone.com, Klik Tautan Ini: https://muslim.okezone.com/alquran

2. Pendidikan bersikap apatis

Pendidikan berikutnya dapat dilakukan dengan bersikap apatis. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), apatis adalah bersikap acuh tidak acuh, tidak peduli, dan masa bodoh. Pendidikan seperti ini lebih dikhususkan kepada anak yang berada pada fase awal usia sekolah dasar.

Karena pada usia ini, anak belajar untuk menemukan identitas dirinya. Orang dan benda di sekelilingnya tentu ikut membangun karakter pada dirinya. Semangat untuk mencontoh dan meniru gerak-gerik, gaya bahasa maupun bahasa tubuh orang lain terkadang menjadi hal yang sering dilakukan untuk menemukan dan mengenal siapa dirinya.

Dalam proses identifikasi inilah, seorang anak perlu mendapatkan bimbingan tentang apa yang diperbuat dan apa yang dia katakan. Jika dalam perkembangannya, anak terlihat menyimpang maka sebagai pendidik dan orangtua sewajarnya untuk menegur. Jika teguran yang diberikan tidak diindahkan dan anak mengulangi kembali perbuatannya maka sewajarnya diberlakukan sikap apatis pada anak tersebut.

Dalam sebuah riwayat dikatakan: Kerabat Ibnu Mughaffal yang belum baligh bermain lempar batu. Kemudian ia melarang dan berkata, "Sesungguhnya Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam telah melarang bermain lempar batu dan Beliau bersabda, 'Sesungguhnya lempar batu tidak akan dapat memburu buruan....' Kemudian anak itu kembali bermain. Maka ia berkata, 'Aku memberitahumu bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam telah melarangnya, namun engkau terus bermain lempar batu? Maka aku tidak akan mengajakmu berbicara selamanya'."

3. Pendidikan fisik tanpa melukai

Selanjutnya pendidikan dalam bentuk pemukulan dengan tanpa melukai. Pemukulan pun dilakukan bukan pada area anggota tubuh yang dapat merusak fungsi tubuh dan sistem saraf. Pendidikan dengan pemukulan ini diperkenankan jika cara-cara sebelumnya tidak menimbulkan efek jera bagi si anak.

Namun perlu diingat bahwa pendidikan seperti ini hanya boleh dilakukan bagi anak yang akan memasuki usia akil balig, di mana dia sudah mampu membedakan mana yang baik dan buruk. Adapun ranah pendidikan yang ditekankan di sini adalah yang berkaitan dengan kewajiban-kewajiban dirinya sebagai seorang muslim dan kewajiban dirinya sebagai seorang individu.

Abu Dawud dan Hakim meriwayatkan dari Amr bin Syua’aib dai bapaknya dari kakeknya bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam pernah bersabda:

"Perintahkan anak-anakmu untuk melaksanakan sholat apabila mereka telah berusia tujuh tahun, dan apabila mereka telah berusia 10 tahun, maka pukulnya mereka (apabila tetap tidak mau melaksanakan sholat) dan pisahkan tempat tidur mereka."

4. Pendidikan melalui pemboikotan

Lalu bagaimana dengan anak yang sudah diperingatkan untuk melaksanakan kewajibannya kepada Allah Subhanahu wa ta'ala sementara ia masih enggan mengerjakannya? Maka cara mendidiknya yaitu dengan pemboikotan. Tahapan pendidikan pemboikotan dilakukan apabila anak bersikap menyimpang, tapi masih berada dalam iman dan Islam.

"Al Bukhari meriwayatkan bahwa Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam telah melarang kaum muslimin untuk berbicara dengan orang-orang yang tidak ikut Perang Tabuk selama 50 hari/malam. Sampai akhirnya Allah menurunkan wahyu (Alquran) tentang penerimaan tobat mereka."

5. Pendidikan melalui pengasingan

Lalu bagaimana dengan sikap anak yang secara terang-terangan menentang guru dan orangtuanya, bahkan ia sampai murtad atau keluar dari agama Islam? Maka mengasingkan atau mengusirnya adalah termasuk salah satu tuntunan iman yang paling utama.

Allah Subhanahu wa ta'ala berfirman dalam Surah Al Mujadalah Ayat 22:

"Kamu tidak akan mendapati suatu kaum yang beriman kepada Allah dan hari akhir, saling berkasih sayang dengan orang-orang yang menentang Allah dan Rasul-Nya, sekalipun orang-orang itu adalah bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara, ataupun keluarga mereka."

Berdasarkan dalil tersebut jelas bahwa jika didapati seorang anak yang menentang Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam maka dapat dibenarkan jika orangtua mengasingkan atau mengusir anaknya yang menentang tersebut dari rumahnya.

Jika seorang anak telah menentang Allah Subhanahu wa ta'ala dan Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam maka tidak ada satu pun yang dapat menyelamatkannya, tidak pula dengan guru dan orangtuanya.

Allahu a'lam bisshawab.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini