Kita Semua Pengantin: Ayat-Ayat Cinta dalam Al-Quran

, Jurnalis
Selasa 01 Juni 2021 08:11 WIB
Al-Quran. (Foto:Freepik)
Share :

Kita Pengantin Ruhani

Mengapa semua manusia adalah pengantin. Ini dijelaskan oleh sufi agung, Syeik Maulana Jalaluldin Rumi. Saya suka sekali kisah perjalanan beliau ini menjadi walilyullah.

Awalnya Rumi memiliki sahabat yang menjadi pembimbing spiritual. Dalam proses ajar mengajar, sang sahabat tiba tiba menghilang, dan Rumi menjadi sangat kehilangan. Ungkapan-ungkapan kesediahannya bisa dibaca di buku Fihi Ma Fihi.

Kehilangan Rumi membawanya menemukan cinta yang abadi. Kemudian menemukan wasilah atau cara agar dia bisa dekat dengan kekasihnya, Allah yaitu dengan tarian atau whirling darwish, ini adalah putaran seperti tawaf, berlawanan dengan arah jarum jam.

Saya memaknainya ini sebagai upaya Rumi kembali pada masa masa ruh nya bertemu dalam Allah sebelum di tiupan ke rahim ibunya. Ini adalah simbolisme, bahwa manusia perlu mengingat asal muasal agar tahu jalan kembali. Logikanya, tak ada mudik bagi orang yang tak punya kampung halaman. Hanya orang yang mengerti asal usul dirinya yang bisa mengenal Tuhannya.

Ini bisa dijelaskan dengan ayat 172 di surat al-a’araf. Ibarat proses pertunangan pada proses pernikahan, relasi manusia dan Allah diungkapkan dalam A Quran. “Dan (ingatlah) ketika Tuhanmu mengeluarkan dari sulbi (tulang belakang) anak cucu Adam keturunan mereka dan Allah mengambil kesaksian terhadap roh mereka (seraya berfirman), “Bukankah Aku ini Tuhanmu?” Mereka menjawab, “Betul (Engkau Tuhan kami), kami bersaksi.” (Kami lakukan yang demikian itu) agar di hari Kiamat kamu tidak mengatakan, “Sesungguhnya ketika itu kami lengah terhadap ini.”

Maka itu menjelang kematinnya, Rumi merasa aneh dengan murid dan orang orang yang menangis sedih. Seharusnya kata dia, mereka menangis bahagia, bukan sedih, karena mereka ini adalah para pengiring pengantin, untuk menemui kekasihnya, Allah.

Makanya, kalau warga Nahdliyin sudah paham betul ada yasin an dan tahlilan, 1-7 hari, 40hari. Jadi itu adalah perayaan pesta 7 hari 7 malam, sementara kalau tahiililan 1000 hari itu seperti perayaan hari pernikahan yang bersangkutan. Jadi tidak apa apa, orang yang nggak tahiililan itu ibarat kalau nikah ya cuma akad saja, nggak pake resepsi. Nabi menyunahkan pesta pernikahan.

Mengapa periode hidup manusia di dunia ini sebenarnya adalah penantian calon pengantin yang sudah dipinang oleh Allah di zaman Azzali untuk kemudian berjumpa pada singgasana pengantin di akhirat kelak? Karena sebagaimana wanita adalah bagian dari tulang rusuk laki-laki (Al-A'raf 18), manusia juga adalah bagian dari Allah. Kita ini diciptakan dari ruh yang juga diciptakannya, kita ini semacam serpihan Nya (Al-Hijr ayat 29).

Makanya, asmaul husna adalah refleksi dari sifat-sifat pokok mahluk yang diambil dari sifat Allah. Tidak heran kita jumpai orang yang sangat penyangang atau sangat dermawan, maka itu adalah refleksi dari Ar-Rahman dan Ar-Rahim. Semakin kita bisa meniru sifat sifat itu dalam keseharian kita, maka semakin dekat kita dengan Allah. Dia makin cinta.

Mufasiir KH Quraish Sihab mengatakan, semua manusia berpotensi bisa meneladani sifat sifat Allah, termasuk orang kafir. Maka tak heran ada orang non-islam yang malah jauh lebih dermawan dari muslim. Jadi kita ini mahluk berkesadaran, bukan mahluk social. Mahluk sosial itu ya hewan.

Nah, kembali kepada nasehat pernikahan ini. Sesungguhnya, perempuan itu adalah serpihan dari laki laki. Dalam Al-A'raf 7:189. Tafsir Jalalayn, mengartikan nya begini:

“(Dialah) Allahlah (yang menciptakan kamu dari diri yang satu) yaitu Adam (dan Dia menjadikan) Dia menciptakan (dari padanya istrinya) yakni Hawa (agar dia merasa tenang) Adam menjimaknya (istrinya itu mengandung kandungan yang ringan) berupa air mani (dan teruslah dia merasa ringan) masih bisa berjalan ke sana dan kemari mengingat ringannya kandungan (kemudian tat kala dia merasa berat) anak yang ada dalam perutnya makin membesar. Al akhirul ayah….

Kata kuncinya adalah agar merasa tenang. Jadi, jodoh kita itu adalah orang yang bisa membuat rasa tenang, kalau tidak bisa ya mungkin bukan jodohnya, tapi ujian. Jadi istri yang baik atau shalih itu juga adalah ujuan, ibaratnya ujian yang menyenangkan, sementara istri yang cemberutan itu ujian yang tidak menyenangkan. Maka banyak sekali ayat yang mengatakan bahwa istri dan anak itu adalah ujian, sehingga jangan sampai terlena.

Maka itu, kalau di urut-urut, Laki laki itu adalah serpihannya Allah lewat ruh yang ditiupkan, sementara perempuan juga merupakan serpihan Allah, tapi via tulang rusuk laki laki. Seyogyanya kedua dua duanya merindu dan cinta kepada Dzat yang sama yakni Allah SWT.

Simpulannya, secara zahir resepsi pernikahan adalah perayaan bertemunya tulang rusuk laki-laki dan pasangannya. Makanya kalau nggak kawin kawin ya jangan jangan jodohnya sudah mati atau belum lahir he he he. Sementara, kematian adalah perayaan resepsi ruh yang diciptakan dengan yang menciptakan, yaitu Allah Azza Wajalla. 

Demikian, Wallahu alam bishowab.

Oleh: Muhammad Ma’ruf Assyahid,

Jurnalis, Santri PP Baitul Mustaqim Lampung Tengah dan Pascasarjana UIN Raden Intan Bandar Lampung. Kini berkhidmat sebagai Nahdlyin, tinggal di Bogor

(Vitrianda Hilba Siregar)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya