Maria juga mengungkapkan awalnya dia adalah aktivis keagamaan dan aktif di kelompok remaja itu menyebut. Namun hidayah Allah Ta'ala datang dan Maria pun sembunyi-sembunyi bertekad menjadi mualaf. Namun lama kelamaan sang ayah tahu. Lantas apa yang terjadi. "Perdebatan keras terjadi di keluarga. Nah pada hari ketujuh saya diusir dari rumah. Diancam setiap hari, dimasukkan ke rumah sakit jiwa," katanya.
Bukan itu saja. Maria juga disakiti dan dicelakai oleh keluarga sendiri, bahkan sempat ditabrak oleh kakaknya sendiri. Begitu pula di lingkungannya, ia mengalami perundungan atau bullying oleh teman-temannya.
"Sampai suatu ketika di saat saya dimasukkan ke rumah sakit jiwa salah satu dokter bilang. Anak Bapak tidak gila, anak bapak memutuskan masuk Islam itu sangat baik. Kenapa Bapak tega, memasukkan anak ke rumah sakit jiwa?" katanya.
"Harusnya bapak bersyukur, anak bapak masuk Islam. Di situ papi, tetap kencang, masukkan rumah sakit jiwa lain lagi. Saya disekap, saya dikasih obat tidur, sampai saya bilang, kenapa kalian enggak bunuh saya sekalian dengan agama saya saat ini?"