Ayat ini juga menjadi pengingat akan pentingnya berlaku lemah lembut kepada sesama serta membuang jauh perilaku-perilaku yang tidak mengedepankan tata krama, termasuk juga hati yang keras dalam mengajak kepada kebaikan.
Alih-alih akan mendatangkan sesuatu yang diharapkan, sikap negatif ini justru akan semakin menjauhkan orang-orang baik di sekitar kita. Mari tebarkan aura menyejukkan dan kedepankan diskusi dengan kepala dingin untuk menyelesaikan berbagai hal dalam mewujudkan kemaslahatan bersama.
Bersikap baik dan berperilaku positif sudah menjadi setengah dari kesuksesan kita meraih sesuatu.
Hadirin dhuyufurrahman yang dimuliakan Allah SWT, dalam momentum haji ini, kita juga diingatkan untuk menanggalkan keakuan kita dengan mengagungkan Allah yang merupakan dzat paling berhak dalam kehidupan. Kita hadir hanya dengan memakai dua helai kain putih yang menjadi simbol ketidakmampuan dan kepasrahan kepada Allah.
Pakaian ihram yang kita pakai ini menunjukkan bahwa kita semua sama di hadapan Allah SWT.
Bukan jabatan, bukan harta, dan bukan kelebihan fisik yang pantas untuk dibanggakan di hadapan Allah karena yang menjadi barometer kemuliaan dihadapan-Nya hanyalah ketakwaan. Allah berfirman:
Artinya: "Wahai manusia, sesungguhnya Kami telah menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan perempuan. Kemudian, Kami menjadikan kamu berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar kamu saling mengenal. Sesungguhnya yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Mahateliti." (QS Al Hujurat: 13)
Dalam ayat ini pula kita diingatkan oleh Allah untuk senantiasa menyadari adanya perbedaan penciptaan manusia. Ada pria ada wanita dengan berbagai suku bangsa ini bukan untuk dipertentangkan dan saling bercerai-berai.
Semua itu adalah untuk saling mengenal, menjalin komunikasi, sehingga terbangun harmoni di tengah kehidupan. Terlebih di negara kita Indonesia yang sangat bhinneka dalam kebudayaan dan agama, perlu untuk
dirawat sehingga senantiasa damai dan rukun dalam kehidupan beragama, berbangsa, serta bernegara.
Hadirin dhuyufurrahman yang dimuliakan Allah SWT,
Dalam rangka mewujudkan kehidupan yang harmoni antar sesama, sudah semestinya kita mengedepankan sikap moderat dalam segala hal, wa bil khusus moderat dalam beragama.
Moderasi beragama adalah cara pandang, sikap, dan praktik beragama dalam kehidupan bersama dengan cara mengejawantahkan esensi ajaran agama, yaitu melindungi martabat kemanusiaan dan membangun kemashlahatan umum, berlandaskan prinsip adil, berimbang, dan menaati konstitusi sebagai kesepakatan berbangsa.