MIRIP Indonesia, rakyat Uzbekistan 80 persen Muslim sunni. Nama negara Uzbekistan beberapa waktu belakangan makin sering disebut publik Tanah Air karena menjadi lawan Timnas Indonesia U-23 di semifinal Piala Asia 2024.
Uzbekistan sendiri adalah sebuah negara republik yang terletak di Asia Tengah. Sebelumnya mereka bagian dari Uni Soviet.
Uzbekistan merupakan negara yang terkurung daratan. Mereka berbatasan langsung dengan negara Kazakhstan di sebelah barat dan utara, Kirgizstan dan Tajikistan di timur, serta Afganistan dan Turkmenistan di selatan.
Bahasa resmi Uzbekistan adalah bahasa Uzbek yang merupakan bahasa dari rumpun Turkik. Di sana digunakan juga bahasa Rusia yang menjadi sisa peninggalan pemerintahan Uni Soviet.
Sekira 1 juta orang Tajik, kelompok etnis yang masih serumpun dengan orang Persia, menghuni Uzbekistan. Ini merupakan 4,8 persen dari seluruh jumlah penduduk di sana.
Rakyat Uzbekistan Mayoritas Muslim Sunni
Dikutip dari laman hrw.org, Selasa (30/4/2024), lebih dari 80 persen rakyat Uzbekistan beragama Islam. Mayoritas Muslim di sana adalah Sunni atau golongan yang mengikuti sunnah Nabi Muhammad Shallallahu alaihi wassallam.
Muslim Sunni disebut juga ahlussunnah wal jamaah. Ini menunjukkan pada kuatnya berpegang teguhnya mereka terhadap ajaran Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam tanpa melenceng dari apa yang telah diajarkan, sehingga mereka disebut ahlun atau pengikut atau pemilik.
Oleh karena itu, Rasulullah Shallallahu alaihi wassallam menafsirkan golongan yang selamat dengan penafsiran:
كُلُّهُمْ فِي النَّارِ إِلَّا مِلَّةً وَاحِدَةً ، قَالُوا: وَمَنْ هِيَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: مَا أَنَا عَلَيْهِ وَأَصْحَابِي
"Semuanya masuk ke dalam neraka, kecuali satu golongan." Para sahabat bertanya, "Siapakah mereka, wahai Rasulullah?" Beliau menjawab, "Mereka adalah golongan yang berjalan di atas jalan ditempuh oleh aku dan para sahabatku."
Perjuangan Muslim Uzbekistan
Di era Pemimpin Uni Soviet Joseph Stalin, ulama Muslim disebutkan pernah mengalami penganiayaan, begitu pula tokoh Kristen di seluruh Uni Soviet, karena menentang rezim Soviet.
Selama Perang Dunia II, Pemerintah Uni Soviet menjalin hubungan baik dengan para ulama, kemudian membentuk Dewan Muslim Asia Tengah dan Kazakhstan.
Dewan Muslim adalah inti dari Islam "resmi" selama periode Uni Soviet pasca-perang. Dengan Mufti sebagai pemimpinnya, lembaga ini bertugas mengatur pendaftaran masjid, menunjuk imam untuk memimpin jamaah lokal, dan bahkan memverifikasi isi khotbah.
Dengan kemerdekaan pada tahun 1991, datanglah kesempatan bagi umat Islam di Uzbekistan untuk beribadah secara bebas dan terbuka sesuai keyakinannya.
Masjid dibangun dengan sumbangan masyarakat dan bantuan asing, sekolah agama dibuka, serta generasi muda mulai belajar lebih banyak tentang Islam. Ini dinilai sebagai kebangkitan kembali umat Islam di sana.
Kebangkitan kembali umat Islam di Uzbekistan ternyata hadir dalam berbagai kelompok. Banyak Muslim yang terus mengikuti jalur sekuler.
Sementara yang lainnya mulai secara terbuka menjalankan hari raya, ibadah, dan Sholat Jumat. Kelompok ini tidak banyak mengubah gaya hidup atau posisi mereka dalam struktur sosial.
Beberapa dari mereka, khususnya generasi muda Muslim, memilih bentuk praktik keagamaan yang lebih ketat. Mereka menjalani pendidikan agama dan menerapkan pakaian keagamaan serta kewajiban lain yang ditentukan oleh syariat Islam. sedangkan yang lain melihat Islam sebagai dasar sistem politik alternatif.
Setelah kemerdekaan, Presiden Islam Karimov, mantan sekretaris pertama Partai Komunis Uzbekistan, menyebut Islam dalam pidato politiknya, dan bahkan memegang Alquran di satu tangan serta konstitusi negara di tangan lainnya pada hari pelantikan sebagai presiden pertama Uzbekistan.
Garis kendali antara pemerintah dan pejabat Islam selama era Soviet tidak banyak berubah di Uzbekistan pasca-Soviet. Pada tahun 1992, Dewan Muslim Asia Tengah dan Kazakhstan didesentralisasi dengan pembentukan dewan pengawas Muslim di setiap negara bagian Asia Tengah.
Dewan Muslim Uzbekistan menjalankan fungsi yang sama dengan dewan di era Soviet. Meski demikian, sebagian Muslim di Uzbekistan mendirikan masjid sendiri di luar lingkup pemerintah, memilih imam sendiri, dan menerapkan praktik Islam sesuai keinginan jamaah.
Wallahu a'lam bisshawab.
(Hantoro)