Segera buka puasa tepat setelah azan Maghrib atau matahari terbenam, tanpa menunda meski hanya sebentar, untuk mendatangkan kebaikan dan menghindari kekurangan.
Sunnah pertama adalah kurma basah (ruthab) sebanyak ganjil, seperti 1, 3, atau 5 butir, sebagaimana hadits Rasulullah SAW:
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ قَالَ كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يُفْطِرُ عَلَى رُطَبَاتٍ قَبْلَ أَنْ يُصَلِّيَ فَإِنْ لَمْ يَجِدِ الرُّطَبَ فَعَلَى تَمَرَاتٍ فَإِنْ لَمْ يَجِدْهَا فَعَلَىْ مَاءٍ
Artinya: Anas bin Malik RA berkata: "Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam biasa berbuka puasa dengan kurma basah (ruthab) sebelum menunaikan shalat. Jika tidak ada kurma basah, maka beliau berbuka dengan kurma kering (tamr). Dan jika tidak ada keduanya, beliau berbuka dengan (seteguk) air." (HR Abu Dawud no. 2356, shahih Al-Albani).
Berbuka ringan dulu (kurma/air), lalu shalat Maghrib, kemudian makan hidangan utama, sebagaimana yang diamalkan oleh Rasulullah SAW.
عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللَّهِ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لِبِلَالٍ اجْعَلْ بَيْنَ أَذَانِكَ وَإِقَامَتِكَ مِنْهُمَا سَاعَةً يَسِيرَةً تَكْفِي الْمَاضِي إِلَى صَلَاتِهِ فَيَتَمَ كَمَا يُحِبُّ وَالْمُؤَكِّلَ إِلَى طَعَامِهِ فَيَتَمَ كَمَا يُحِبُّ
Artinya: "Dari Jabir bin Abdullah, bahwa Rasulullah SAW bersabda kepada Bilal RA: "Jadikanlah antara adzanmu dan iqamahmu jeda sejenak, yaitu sekadar waktu bagi orang yang datang untuk shalat agar menyelesaikannya dengan tenang sebagaimana ia sukai, dan sekadar waktu bagi orang yang sedang makan agar menyelesaikannya dengan tenang sebagaimana ia sukai." (HR Ahmad, shahih Al-Albani).
Hindari makan berlebih agar qiyamul lail khusyuk; pilih makanan halal thayyib seperti madu atau susu. Berbagi hidangan iftar pahalanya setara puasa, tanpa mengurangi pahala penerima.
(Rahman Asmardika)