Contoh Khutbah Idul Fitri Muhammadiyah 20 Maret 2026

Rahman Asmardika, Jurnalis
Rabu 18 Maret 2026 15:01 WIB
Ilustrasi.
Share :

Hari ini, di bawah naungan langit Idul Fitri, kita berdiri di ambang pintu kemenangan (al-falah). Namun, penting bagi kita untuk menyadari bahwa kemenangan sejati bukanlah sekadar kembalinya kita kepada pola makan yang normal atau perayaan fisik semata. Kemenangan ini adalah keberhasilan kita dalam menyerap seluruh kurikulum terbaik dari Madrasah Ramadan guna melahirkan profil manusia unggul yang siap memikul beban peradaban masa depan.

Sejatinya, tujuan akhir dari pendidikan sebulan penuh ini adalah untuk membentuk jati diri kita sebagaimana perumpamaan indah yang Allah SWT abadikan dalam Al-Qur’an Surah Ibrahim ayat 24-25:

أَلَمْ تَرَ كَيْفَ ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا كَلِمَةً طَيِّبَةً كَشَجَرَةٍ طَيِّبَةٍ أَصْلُهَا ثَابِتٌ وَفَرْعُهَا فِي السَّمَاءِ

تُؤْتِي أُكُلَهَا كُلَّ حِينٍ بِإِذْنِ رَبِّهَا ۗ وَيَضْرِبُ اللَّهُ الْأَمْثَالَ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَذَكَّرُونَ

Artinya: “Tidakkah kamu memperhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit.”

Pohon itu menghasilkan buahnya pada setiap waktu dengan seizin Tuhannya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia agar mereka selalu ingat.”

Ayat ini merupakan cetak biru bagi manusia unggul. Ramadan adalah proses kita menanam dan memperkuat “akar” iman di dalam jiwa. Jika akarnya tidak tertancap dengan kuat, maka mustahil bagi sebuah bangsa atau peradaban untuk memiliki cabang prestasi dan ilmu pengetahuan yang menjulang tinggi ke langit.

Mengapa Ramadan begitu krusial bagi keunggulan manusia? Secara empirik, ibadah ini merupakan latihan regulasi diri atau self-regulation kolektif terbesar di dunia. Riset dalam psikologi modern, termasuk studi jangka panjang yang dikenal dengan The Marshmallow Test, menunjukkan bahwa kemampuan seseorang untuk menunda kepuasan atau delayed gratification di belakang lebih dapat menjamin kesuksesan jangka panjang seseorang dibandingkan dengan tingkat IQ sekalipun. Artinya, mereka yang terbiasa menahan diri dari kenikmatan sesaat demi tujuan yang lebih besar, melalui proses perjuangan dan pengorbanan, cenderung lebih berpotensi meraih keberhasilan dibandingkan mereka yang hanya mengandalkan kecerdasan intelektual semata.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya