Khutbah Jumat: Penyakit Hati dan Cara Mengobatinya

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 08 Mei 2026 10:43 WIB
Ilustrasi.
Share :

JAKARTA - Hati adalah nahkoda dari amal tindakan dan perbuatan manusia yang perlu diperhatikan kondisinya, terlebih di kehidupan modern saat ini yang serba sibuk dan cepat. Pasalnya, manusia kerap lebih memperhatikan penampilan fisik dan luar, tetapi di hatinya dipenuhi berbagai penyakit seperti riya’, dengki, hasad, dan buruk sangka, yang akan berdampak pada perilakunya.

Lantas bagaimana mengobati berbagai penyakit dan menjaga kondisi hati ini? Hal ini yang akan disampaikan dalam Khutbah Jumat berjudul “Penyakit Hati dan Cara Mengobatinya”, yang dilansir dari NU Online.

Khutbah I

الْحَمْدُ لِلّٰهِ نَحْمَدُهُ وَنَسْتَعِينُهُ وَنَسْتَهْدِيهِ وَنَسْتَغْفِرُهُ وَنَسْتَرْشِدُهُ، وَنَعُوذُ بِاللّٰهِ مِنْ شُرُورِ أَنْفُسِنَا وَمِنْ سَيِّئَاتِ أَعْمَالِنَا، مَنْ يَهْدِهِ اللّٰهُ فَهُوَ الْمُهْتَدِي، وَمَنْ يُضْلِلْ فَلَنْ تَجِدَ لَهُ وَلِيًّا مُرْشِدًا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللّٰهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُ اللّٰهِ وَرَسُولُهُ، أَرْسَلَهُ اللّٰهُ بِالْهُدَى وَدِينِ الْحَقِّ هَادِيًا وَمُبَشِّرًا وَنَذِيرًا، وَدَاعِيًا إِلَى اللّٰهِ بِإِذْنِهِ وَسِرَاجًا مُنِيرًا، فَهَدَى اللّٰهُ بِهِ الْأُمَّةَ، وَكَشَفَ بِهِ الْغُمَّةَ، فَجَزَاهُ اللّٰهُ خَيْرَ مَا جَزَى نَبِيًّا عَنْ أُمَّتِهِ. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِهِ وَصَحْبِهِ الطَّيِّبِينَ الطَّاهِرِينَ وَمَنْ تَبِعَهُمْ بِإِحْسَانٍ إِلَى يَوْمِ الدِّينِ. أَمَّا بَعْدُ، عِبَادَ اللّٰهِ، فَأُوصِي نَفْسِي وَإِيَّاكُمْ بِتَقْوَى اللّٰهِ الْعَظِيمِ، الْقَائِلِ فِي كِتَابِهِ الْقُرْآنِ الْكَرِيمِ: ﴿أَفَلَمْ يَسِيرُوا فِي الْأَرْضِ فَتَكُونَ لَهُمْ قُلُوبٌ يَعْقِلُونَ بِهَا أَوْ آذَانٌ يَسْمَعُونَ بِهَا ۖ فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلٰكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ﴾ [الحج: ٤٦]

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Mengawali khutbah pada siang hari yang penuh keberkahan ini, khatib berwasiat kepada kita semua, terutama kepada diri khatib pribadi, untuk senantiasa berusaha meningkatkan kualitas keimanan dan ketakwaan kita kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala.

Ia adalah satu-satunya Tuhan yang wajib dan berhak disembah, Pencipta segala sesuatu, yang menakdirkan terjadinya segala sesuatu, Maha Kuasa atas segala sesuatu, tidak membutuhkan apa pun, berbeda dengan segala sesuatu, tidak membutuhkan tempat dan arah, serta Maha Suci dari bentuk dan ukuran.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Rasulullah shallallahu 'alaihi wasallam bersabda:

أَلَا وَإِنَّ فِي الْجَسَدِ مُضْغَةً، إِذَا صَلَحَتْ صَلَحَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، وَإِذَا فَسَدَتْ فَسَدَ الْجَسَدُ كُلُّهُ، أَلَا وَهِيَ الْقَلْبُ (رواه البخاري ومسلم)

Artinya: “Ketahuilah, sesungguhnya di dalam tubuh ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baiklah seluruh tubuh; dan jika ia rusak, maka rusaklah seluruh tubuh. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim dari sahabat an-Nu’man bin Basyir)

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Hati adalah pemimpin dan pengendali bagi seluruh anggota badan. Hati merupakan organ paling mulia dalam diri manusia. Seluruh anggota tubuh tidak akan melakukan apa pun kecuali atas perintah hati. Jika hati seorang hamba baik, maka baik pula seluruh anggota tubuhnya, mulai dari telinga, mata, mulut, lidah, tangan, kaki, perut, hingga kemaluannya.

Pengaruh kebaikan hati akan tampak pada seluruh anggota badan tersebut. Namun, jika hati rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya, dan dampak kerusakan hati akan terlihat pada anggota badan itu.

Hal ini karena sebelum seseorang melakukan suatu perbuatan, baik maupun buruk, terlebih dahulu muncul tekad dalam hatinya. Kemudian hati memberikan arahan kepada anggota badan, lalu anggota badan bergerak melaksanakan perbuatan tersebut. Maka tindakan anggota badan hanyalah ungkapan dan ekspresi dari apa yang telah diniatkan di dalam hati.

Allah menjadikan anggota badan tunduk dan patuh kepada hati. Apa pun yang bercokol di dalam hati akan tampak pada anggota badan dan diwujudkan sesuai kehendak hati. Jika hati baik, maka yang dilakukan anggota badan pun akan baik. Begitu pula sebaliknya.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyebut hati dengan istilah mudhghah, yakni segumpal daging sebesar sesuatu yang dapat dikunyah seseorang. Hal ini mengisyaratkan bahwa hati mempunyai ukuran kecil, namun memiliki peran dan kedudukan yang sangat besar.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita berusaha menyucikan hati, menjaganya dari berbagai kotoran, serta membersihkannya dari penyakit-penyakit hati agar hati menjadi lurus, terdorong menuju kebaikan, dan mampu menahan diri dari keburukan. Dengan demikian, kita akan memiliki penghalang dalam batin yang mencegah diri dari kemungkaran serta terbiasa memperbanyak amal kebajikan.

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Di antara penyakit hati adalah ragu terhadap Allah, baik mengenai keberadaan-Nya, keesaan-Nya, sifat Maha Kuasa-Nya, sifat Maha Bijaksana-Nya, keadilan-Nya, maupun ilmu-Nya. Semua itu dapat merusak iman dan mengeluarkan seseorang darinya.

Penyakit hati lainnya adalah riya’, yaitu melakukan ketaatan agar dipuji orang lain, bukan dengan niat ikhlas karena Allah. Begitu juga dengki (al-hiqd), yaitu memendam permusuhan terhadap sesama Muslim disertai tindakan untuk mewujudkan permusuhan tersebut, seperti berusaha memukulnya, memenjarakannya tanpa hak, atau bentuk kezaliman lainnya.

 

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Menjaga kebersihan hati bukanlah perkara yang ringan. Sebab penyakit hati sering kali tidak tampak secara lahiriah, namun dampaknya sangat besar dalam merusak iman dan amal seseorang. Karena itu, para ulama memberikan perhatian besar terhadap pentingnya mempelajari penyakit-penyakit hati beserta cara mengobatinya.

Imam al-Ghazali rahimahullah, sebagaimana dikutip oleh Imam an-Nawawi dalam Majmu' jilid 1 halaman 51, bahkan menegaskan bahwa mengetahui hakikat penyakit hati, sebab-sebabnya, serta cara membersihkannya merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, terlebih ketika penyakit tersebut telah bercokol dalam dirinya.


 أَمَّا عِلْمُ الْقَلْبِ، وَهُوَ مَعْرِفَةُ أَمْرَاضِ الْقَلْبِ كَالْحَسَدِ وَالْعُجْبِ وَشِبْهِهِمَا، فَقَالَ الْغَزَالِيُّ: مَعْرِفَةُ حُدُودِهَا وَأَسْبَابِهَا وَطِبِّهَا وَعِلَاجِهَا فَرْضُ عَيْنٍ
 

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Makna sabda beliau “Allah tidak melihat kepada jasad kalian” adalah bahwa Allah tidak memberikan pahala berdasarkan rupa dan tubuh kalian, dan hal itu tidak mendekatkan kalian kepada-Nya. Sedangkan sabda beliau “tetapi Dia melihat kepada hati kalian” merupakan penegasan agar seseorang memperhatikan perbaikan hati, meluruskan keinginan, membersihkannya dari seluruh sifat tercela, serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji.

Di dalam hadits tersebut terdapat pelajaran bahwa perhatian terhadap perbaikan hati lebih utama daripada perbuatan anggota tubuh. Karena perbuatan hati itulah yang menjadikan amal-amal syar’i menjadi sah. Sesungguhnya niat adalah rahasia di balik amal seseorang.

Tempat niat berada di dalam hati, dan dengan niat dapat dibedakan antara kebiasaan dan ibadah. Dua orang bisa melakukan amal yang sama, tetapi niat hati mereka berbeda. Yang satu diberi pahala karena berinfak untuk Allah Ta’ala, sedangkan yang lain berdosa karena berinfak dengan niat riya’ agar dipuji manusia.

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ (رواه الشيخان)

Artinya: “Sesungguhnya diterima atau tidaknya amal ketaatan itu tergantung pada niat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Oleh sebab itu, seseorang hendaknya berupaya menjaga hatinya agar tetap baik dengan cara menyucikannya dari penyakit-penyakit hati dan tidak membiarkannya menjadi keras akibat berbagai maksiat yang dilakukan. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

وَإِنَّ أَبْعَدَ النَّاسِ مِنَ اللَّهِ الْقَلْبُ الْقَاسِي (رواه الترمذي)

Artinya: “Sesungguhnya manusia yang paling jauh dari Allah adalah pemilik hati yang keras.” (HR. at-Tirmidzi dari sahabat Ibnu Umar)

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Demikian khutbah singkat pada siang hari ini. Semoga menjadi ilmu yang bermanfaat dan dapat kita amalkan. Amin.

أَقُولُ قَوْلِي هٰذَا وَأَسْتَغْفِرُ اللَّهَ لِي وَلَكُمْ، فَاسْتَغْفِرُوهُ، إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ

Khutbah II

اَلْحَمْدُ لِلّٰهِ وَكَفَى، وَأُصَلِّي وَأُسَلِّمُ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ الْمُصْطَفَى، وَعَلَى آلِهِ وَأَصْحَابِهِ أَهْلِ الْوَفَا، وَأَشْهَدُ أَنْ لَا إِلٰهَ إِلَّا اللَّهُ وَحْدَهُ لَا شَرِيكَ لَهُ، وَأَشْهَدُ أَنَّ سَيِّدَنَا مُحَمَّدًا عَبْدُهُ وَرَسُولُهُ.

أَمَّا بَعْدُ، فَيَا أَيُّهَا الْمُسْلِمُونَ، أُوصِيكُمْ وَنَفْسِي بِتَقْوَى اللَّهِ الْعَلِيِّ الْعَظِيمِ، وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ أَمَرَكُمْ بِأَمْرٍ عَظِيمٍ، أَمَرَكُمْ بِالصَّلَاةِ وَالسَّلَامِ عَلَى نَبِيِّهِ الْكَرِيمِ، فَقَالَ: ﴿إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ ۚ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا﴾ [الأحزاب: ٥٦]. اَللّٰهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَى سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا إِبْرَاهِيمَ، فِي الْعَالَمِينَ إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

اَللّٰهُمَّ اغْفِرْ لِلْمُسْلِمِينَ وَالْمُسْلِمَاتِ، وَالْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ، الْأَحْيَاءِ مِنْهُمْ وَالْأَمْوَاتِ. اَللّٰهُمَّ ادْفَعْ عَنَّا الْبَلَاءَ وَالْوَبَاءَ وَالْفَحْشَاءَ وَالْمُنْكَرَ وَالْبَغْيَ وَالشَّدَائِدَ وَالْمِحَنَ، مَا ظَهَرَ مِنْهَا وَمَا بَطَنَ، مِنْ بَلَدِنَا هٰذَا خَاصَّةً وَمِنْ بُلْدَانِ الْمُسْلِمِينَ عَامَّةً، إِنَّكَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيرٌ. عِبَادَ اللَّهِ، إِنَّ اللَّهَ يَأْمُرُ بِالْعَدْلِ وَالْإِحْسَانِ وَإِيتَاءِ ذِي الْقُرْبَى وَيَنْهَى عَنِ الْفَحْشَاءِ وَالْمُنْكَرِ وَالْبَغْيِ ۚ يَعِظُكُمْ لَعَلَّكُمْ تَذَكَّرُونَ. فَاذْكُرُوا اللَّهَ الْعَظِيمَ يَذْكُرْكُمْ، وَاشْكُرُوهُ عَلَى نِعَمِهِ يَزِدْكُمْ، وَلَذِكْرُ اللَّهِ أَكْبَرُ.

///

(Rahman Asmardika)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya