Khutbah Jumat: Penyakit Hati dan Cara Mengobatinya

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 08 Mei 2026 10:43 WIB
Ilustrasi.
Share :

Ma’asyiral Muslimin rahimakumullah,

Menjaga kebersihan hati bukanlah perkara yang ringan. Sebab penyakit hati sering kali tidak tampak secara lahiriah, namun dampaknya sangat besar dalam merusak iman dan amal seseorang. Karena itu, para ulama memberikan perhatian besar terhadap pentingnya mempelajari penyakit-penyakit hati beserta cara mengobatinya.

Imam al-Ghazali rahimahullah, sebagaimana dikutip oleh Imam an-Nawawi dalam Majmu' jilid 1 halaman 51, bahkan menegaskan bahwa mengetahui hakikat penyakit hati, sebab-sebabnya, serta cara membersihkannya merupakan kewajiban bagi setiap Muslim, terlebih ketika penyakit tersebut telah bercokol dalam dirinya.


 أَمَّا عِلْمُ الْقَلْبِ، وَهُوَ مَعْرِفَةُ أَمْرَاضِ الْقَلْبِ كَالْحَسَدِ وَالْعُجْبِ وَشِبْهِهِمَا، فَقَالَ الْغَزَالِيُّ: مَعْرِفَةُ حُدُودِهَا وَأَسْبَابِهَا وَطِبِّهَا وَعِلَاجِهَا فَرْضُ عَيْنٍ
 

Artinya: “Sesungguhnya Allah tidak melihat kepada jasad kalian dan tidak pula kepada rupa kalian, tetapi Dia melihat kepada hati dan amal kalian.” (HR. Muslim)

Makna sabda beliau “Allah tidak melihat kepada jasad kalian” adalah bahwa Allah tidak memberikan pahala berdasarkan rupa dan tubuh kalian, dan hal itu tidak mendekatkan kalian kepada-Nya. Sedangkan sabda beliau “tetapi Dia melihat kepada hati kalian” merupakan penegasan agar seseorang memperhatikan perbaikan hati, meluruskan keinginan, membersihkannya dari seluruh sifat tercela, serta menghiasinya dengan sifat-sifat terpuji.

Di dalam hadits tersebut terdapat pelajaran bahwa perhatian terhadap perbaikan hati lebih utama daripada perbuatan anggota tubuh. Karena perbuatan hati itulah yang menjadikan amal-amal syar’i menjadi sah. Sesungguhnya niat adalah rahasia di balik amal seseorang.

Tempat niat berada di dalam hati, dan dengan niat dapat dibedakan antara kebiasaan dan ibadah. Dua orang bisa melakukan amal yang sama, tetapi niat hati mereka berbeda. Yang satu diberi pahala karena berinfak untuk Allah Ta’ala, sedangkan yang lain berdosa karena berinfak dengan niat riya’ agar dipuji manusia.

Imam al-Bukhari dan Imam Muslim meriwayatkan dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu ‘anhu bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ (رواه الشيخان)

Artinya: “Sesungguhnya diterima atau tidaknya amal ketaatan itu tergantung pada niat.” (HR. al-Bukhari dan Muslim)

 

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya