MAKKAH – Ratusan ribu jamaah haji Indonesia sukses menyelesaikan rukun lempar jumrah aqabah di kawasan Jamarat, Mina, pada Rabu (27/5/2026) pagi waktu setempat. Prosesi puncak ibadah haji ini berjalan dengan sangat lancar dan aman berkat strategi evakuasi yang efektif.
Kesuksesan pergerakan massa ini tak lepas dari rekor baru operasional haji di kawasan Muzdalifah. Seluruh jamaah haji asal Nusantara berhasil dievakuasi dan disterilkan dari Muzdalifah lebih awal sebelum pukul 07.00 pagi.
Kecepatan pergeseran jamaah menuju Mina ini dicapai melalui rekayasa lalu lintas berupa pembukaan dua jalur bus sekaligus. Setelah jamaah dari Arafah habis saat subuh, petugas langsung memaksimalkan pintu kanan dan kiri untuk mengurai kepadatan.
"Jamaah kita pukul 06.45 telah habis semua. Pukul 07.00, bus terakhir berangkat menuju Mina," ungkap Koordinator Bidang Armuzna dan Linjam, Laksamana Pertama Harus Arrasyid, memberikan konfirmasi atas capaian operasional tersebut kepada Tim Media Center Haji.
Infrastruktur jalan menuju Jamarat kini didesain sangat landai sehingga elevasi yang cukup tinggi tidak terlalu menguras tenaga jemaah. Sistem satu arah dan pembatas permanen yang dipasang otoritas Arab Saudi juga membuat arus pergerakan sangat tertib.
Sepanjang perjalanan melintasi terowongan Mina, lantunan kalimat talbiyah terus menggema merdu dari lisan para tamu Allah.
Begitu tiba di dalam gedung Jamarat, jamaah langsung disambut dengan embusan pendingin ruangan yang sangat sejuk. Fasilitas ini sangat krusial dalam menjaga stabilitas suhu tubuh jamaah di tengah lautan manusia yang berdesakan.
Setiap jamaah kemudian melempar tujuh butir kerikil ke arah tugu aqabah dengan penuh kekhusyukan. Lontaran batu ini diiringi doa mendalam sebagai simbol perlawanan dan upaya menjauhkan keburukan dari kehidupan manusia.
Rangkaian ibadah pagi itu ditutup dengan prosesi tahallul awal sebagai tanda terbebasnya jemaah dari sebagian larangan ihram. Jamaah saling memotong rambut dengan penuh haru. Bahkan, tidak sedikit jemaah laki-laki yang memilih menggunduli kepalanya di dalam tenda.
Strategi cermat dari Satgas Armuzna tahun ini diharapkan dapat terus dipertahankan menjadi standar operasional di masa depan. Disiplin pergerakan massa terbukti menjadi kunci mutlak untuk menghadirkan kenyamanan di tengah kerasnya cuaca Arab Saudi.
(Arief Setyadi )