Langkah kedua yang juga tidak kalah penting adalah memilih lingkungan dan teman yang baik. Sebab hati manusia sangat mudah dipengaruhi oleh lingkungan di sekitarnya. Jika ia bergaul dengan orang yang gemar berbuat maksiat, suka menyebarkan kebencian dan kerusakan, lambat laun hatinya akan terpengaruh.
Begitu juga sebaliknya, jika ia bergaul dengan orang-orang baik, maka hatinya juga akan terdorong untuk senantiasa berbuat kebaikan. Berkaitan dengan hal ini, Rasulullah saw bersabda:
الْمَرْءُ عَلَى دِينِ خَلِيلِهِ فَلْيَنْظُرْ أَحَدُكُمْ مَنْ يُخَالِلْ
Artinya, “Seseorang itu mengikuti agama temannya, maka hendaklah salah seorang di antara kalian memperhatikan dengan siapa ia berteman.” (HR. Ahmad & Abu Daud).
Langkah ketiga yang tidak kalah penting dalam menata hati di zaman penuh fitnah adalah senantiasa melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Sebab orang yang terbiasa mengintrospeksi dirinya akan lebih mudah menyadari kekurangan dan kesalahan yang telah ia perbuat. Ia juga akan menjaga hati dari penyakit iri, sombong, dan merasa paling benar.
Kemudian langkah lain yang perlu kita jaga dalam menata hati ini adalah senantiasa berdoa kepada Allah agar kita senantiasa diberikan kekuatan untuk terus berada di jalan yang benar, dan hati kita tetap istiqamah di dalam agama Islam. Ini sangat penting untuk kita jaga, karena hati manusia berada di bawah pengendalian Allah, dan tidak ada seorang pun yang dapat menjamin dirinya istiqamah tanpa pertolongan dari-Nya.
Berikut ini adalah salah satu doa Rasulullah yang dapat kita baca dalam keadaan seperti ini:
يَا مُقَلِّبَ الْقُلُوبِ ثَبِّتْ قَلْبِي عَلَى دِينِكَ
Artinya, “Wahai Zat Yang Maha membolak-balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama-Mu.” (HR. Ahmad).