Khutbah Jumat: Bercanda dan Batasannya dalam Islam

Rahman Asmardika, Jurnalis
Jum'at 02 Oktober 2026 09:05 WIB
Ilustrasi.
Share :

Oleh karena itu, Maasyiral Muslimin hafidzakumullah, Sebagai seorang Muslim, kita perlu mengetahui kapan bercanda dan kapan harus serius. Tidak semua keadaan cocok untuk dijadikan bahan candaan. Bahan candaan untuk seseorang tidak mesti cocok untuk orang lain. Oleh karena itu kita harus benar-benar mempertimbangkan apa, dimana, kapan, dan kepada siapa kita melontar candaan-candaan kita.  

Ada saatnya kita tertawa bersama keluarga dan sahabat, tetapi ada pula saatnya kita harus menunjukkan empati ketika seseorang sedang berduka, menghormati orang yang sedang berbicara, atau bersikap serius ketika berhadapan dengan persoalan penting.  

Candaan juga tidak boleh menjadikan fisik, kekurangan, keluarga, pekerjaan, status sosial, atau aib seseorang sebagai bahan tertawaan. Apa yang menurut kita lucu belum tentu menyenangkan bagi orang lain. Bisa jadi orang lain tertawa di hadapan kita, tetapi sebenarnya menyimpan luka di dalam hatinya.  

Di sinilah pentingnya adab dalam bercanda. Kita bukan hanya menanyakan pada diri sendiri sebelum bercanda, “Apakah orang lain tertawa?” tetapi juga bertanya, “Apakah candaan saya membuat orang lain bahagia atau justru terluka?”

Maasyiral Muslimin hafidzakumullah,

Apalagi di era media sosial saat ini di mana orang sering bercanda dalam wujud tulisan. Candaan melalui media tulisan sangat mungkin bisa menimbulkan kesalahpahaman. Selain itu, sebuah candaan yang disampaikan secara langsung mungkin hanya didengar beberapa orang. Tetapi candaan yang diunggah ke media sosial dapat dilihat, disimpan, dan disebarkan oleh banyak orang. Karena itu, kehati-hatian dalam bercanda di ruang digital menjadi semakin penting.  

Bercanda juga jangan sampai menjadi kebiasaan yang membuat kita kehilangan wibawa. Orang yang selalu menjadikan segala sesuatu sebagai bahan lelucon terkadang akan kesulitan ketika harus berbicara serius. Padahal kehidupan membutuhkan keseimbangan. Ada waktunya tersenyum, ada waktunya tertawa, ada waktunya berbicara ringan, tetapi ada pula waktunya diam, berpikir, belajar, bekerja, beribadah, dan bermuhasabah.  

Pada akhirnya, Islam bukan agama yang melarang kebahagiaan. Islam justru mengajarkan bagaimana kebahagiaan itu dinikmati dengan cara yang benar. Senyum adalah kebaikan, bercanda dapat menjadi sarana mendekatkan hati, dan humor dapat menjadi jalan untuk menghilangkan ketegangan. Tetapi semuanya harus ada batasnya dan dibingkai dengan akhlak yang baik seperti senantiasa menjaga perasaan orang lain.

 

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Muslim lainnya