Dengan demikian, santri tidak hanya memperoleh pendidikan agama dan pengetahuan umum, tetapi juga dibekali keterampilan untuk hidup mandiri dan berkontribusi kepada masyarakat setelah menyelesaikan pendidikan.
Penguatan ekonomi pesantren juga dipandang penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap bantuan pemerintah. Meski demikian, pelaksanaannya membutuhkan pendampingan, pelatihan, serta dukungan sesuai potensi dan kapasitas masing-masing lembaga.
Di tengah agenda transformasi pendidikan, Ditjen Pesantren juga menghadapi tantangan pemerataan kualitas infrastruktur. Kondisi pesantren di Indonesia beragam, mulai dari lembaga yang telah memiliki fasilitas memadai hingga pesantren di wilayah terpencil yang masih membutuhkan dukungan sarana dan prasarana dasar.
Arsad mengakui bantuan pemerintah untuk memenuhi kebutuhan infrastruktur pesantren masih belum mencukupi seluruh kebutuhan. Karena itu, Kementerian Agama akan mengupayakan kolaborasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memperkuat dukungan kepada pesantren.
Bantuan yang telah diberikan antara lain mencakup sanitasi serta sarana dan prasarana pendidikan. Namun, keterbatasan anggaran membuat pemenuhan kebutuhan infrastruktur harus dilakukan secara bertahap.
Terkait keselamatan bangunan, Arsad mengatakan Kementerian Agama berupaya berkolaborasi dengan Kementerian Pekerjaan Umum untuk mendukung peningkatan keamanan fisik bangunan pesantren.