MAKKAH- Kepala Bidang Kesehatan Panitia Penyelenggaraan Ibadah Haji (PPIH) Arab Saudi, Fidiansjah, mencatat jumlah jamaah haji yang meninggal tahun ini hingga hari kedua rangkaian prosesi puncak haji di Arafh, Musdalifah, dan Mina mengalami penurunan.
“Berdasarkan data 2011, jamaah yang meninggal 145 (rasio jamaah 0,65); pada 2012 tercatat sebanyak 141 (rasio jamaah 0,67) jamaah; dan pada 2013 hanya 94 (rasio jamaah 0,55) jamaah. Jumlah tersebut sesuai dengan pelaksanaan dan waktu yang sama,” kata Fidiansjah kepada Media Centre Haji.
Fidiansjah berharap, tren positif itu bisa bertahan meski jumlah pasien yang mendapat perawatan di hari kedua pelontaran jumrah mencapai 400-an.
“Jumlah ini melonjak drastis dari sebelumnya hanya 80-an saja pada saat pelemparan aqobah. Pasien yang sakit umumnya kambuhan dari tanah air," tuturnya.
Tiga Ikhtiar yang Dilakukan
Untuk menekan jumlah kematian jamaah haji, lanjut Fidiansjah, ada tiga hal besar yang telah dilakukan.
“Ikhtiar pertama yakni penguatan dari sistim data. Itu sangat penting bahwa kesehatan terpantau secara baik dan bisa mempercepat pertolongan terhadap jamaah tersebut. Salah satunya dengan penggunaan gelar khusus pasien berisiko tinggi (Risti),” tuturnya.
Dengan menggunakan gelang tersebut, perawat atau dokter dapat mengetahui tipe penyakit yang diderita pasien, sehingga tidak salah dalam diagnosa. “Jika tahu mengenai data awal pasien, kita cepat melakukan antisipasi,” paparnya.
Kedua yakni hikmah dari penyakit korona ini. Masyarakat kemudian melakukan perilaku hidup bersih sehingga Fidiansjah mencatat kesadaran jamaah untuk pola hidup bersih meningkat.
“Dengan melakukan hal tersebut, secara tidak sadar mereka menerapkan terhadap semua penyakit, akibatnya ini sangat baik untuk jamaah,” tandasnya.
Ketiga, kerja sama dengan Kementrian Agama dan pembimbing ibadah. Ketika pelatihan dilakukan, pihaknya secara proaktif memberikan penjelasan mengenai bahayanya virus korona.
(Kemas Irawan Nurrachman)